Share

Perubahan Sang Duke

Author: Aadilry
last update Last Updated: 2026-01-07 12:51:09

"Lea, apa Anda ingin mati? Hari ini tangan besok apa lagi? Anda 'kan bisa menarik tubuh kakak untuk menghindar, kenapa malah melindunginya dengan tanganmu? Apa Anda sadar jika apa yang Anda lakukan tidak akan mengubah perasaan pria itu?" Raicia tak berhenti mengoceh sejak tadi. Dia sesekali melirik kakaknya yang tengah duduk menatap tangan Airlea yang sudah diperban.

Tidak tahu apa yang dilihat dari ikatan perban itu. Yang pasti pria berambut hitam itu tidak melepaskan tatapannya sejak tadi.

"Tanganmu seperti tangan bayi," celetuk Damiane setelah sekian lama menatap tangan itu.

Airlea yang mendengarnya hanya bisa cengengesan bingung. Ditambah, kalimat itu membuat Raicia semakin marah karena merasa tak didengarkan.

"Hah! Sudahlah! Susah bicara dengan batu sepertimu! Urus istrimu itu!" rutuk Raicia yang kemudian pergi dari kamar Airlea.

"Sia!" seru Airlea berusaha menahan kepergian gadis itu. Bukan apa, meninggalkan dirinya berdua dengan Damiane adalah hal terburuk yang membuat Airlea begitu ketakutan sekarang. Dia bingung harus apa, ditambah tangannya sekarang dipegang oleh tangan kasar yang besar milik Damiane. "Ekhem." Airlea mencoba berdeham berharap Damiane peka.

Akan tetapi, tidak. Pria itu masih betah menatap dan memegang tangannya.

Airlea yang penasaran dengan apa yang dilihat Damiane mulai mencondongkan wajahnya. Ikut serta menatap tangan yang diperban itu juga.

"Apakah Anda sedang membaca garis tangan saya? Atau Anda sedang mengamati apakah perbannya tidak bersih? Apakah kemungkinan infeksi? Lalu diamputasi? Atau Anda sedang menerawang masa depan melalui tangan ini?" cecar Airlea pada Damiane.

Damiane menoleh karena pertanyaan yang beruntut itu. Manik emerald Damiane bertemu dengan manik biru Airlea yang indah dan terang. Pria itu kemudian melepaskan tangan istrinya dan segera beranjak tanpa kata.

"Dasar orang aneh," cibir Airlea sembari menatap punggung lebar suaminya.

***

Hari ini, semua orang mendadak sibuk sebab kabar kehadiran sang putri sebentar lagi. Seorang tamu istimewa yang membuat Raicia dan seluruh pelayan di kediaman Alverd heboh. Mereka mempersiapkan makanan kesukaan putri, menyiapkat kamar untuknya sebab fakta baru terdengar jika kamar yang saat ini ditinggali Airlea adalah kamar yang biasa ditempati sang putri. Airlea tahu kedatangan sang putri ini karena alur cerita. Di sini, Eiser akan sibuk dengan sang putri dan nama Airlea masih meredup. Di novel hanya menceritakan tentang mereka berdua.

Dia hanya diam menatap kesibukan semua orang itu. Kemudian, menghela napas dan berjalan mendekati kamarnya. Semua berjalan sesuai novel.

Dia menatap tangannya yang diperban lamat-lamat. "Apakah tidak ada yang bisa aku ubah di sini? Sedikit saja. Setidaknya aku ingin hidup sedikit lebih lama lagi," gumam gadis itu.

"Hei?" Suara itu mengagetkan Airlea yang tengah duduk sendiri di kamarnya. Gadis itu menoleh ke arah balkon. Terlihat jelas seorang perempuan cantik dengan rambut emas dan mata merah seperti delima. Indah sekali.

"Ah? Kenapa Anda di sana?" Airlea panik. Dia membuka pintu balkon. Entah bagaimana caranya gadis ini bisa berada di sini. Mempersilakan dia masuk memang sebuah kecerobohan, mengingat Airlea yang tak mengenal dia. Tetapi, memang ada gadis cantik yang jahat?

"Huhu, di luar cukup dingin," ujar gadis itu. "Terima kasih sudah mempersilakan saya masuk."

Airlea tersenyum canggung. 'Ini bukan orang jahat, 'kan? Bodoh sekali aku asal mempersilakan masuk orang asing.'

"Eh? Yang Mulia Putri?!" teriak Raicia. Gadis itu memasuki kamar Airlea yang memang terbuka lebar sejak tadi. Mendekati sang putri Beatrice Del Adrianne. Seorang putri cantik yang tangguh katanya. Teman dekat Damiane yang dicintainya. Begitu yang Airlea tahu.

Dia bukan gadis biasa. Jadi, tak heran gadis itu bisa tiba-tiba ada di balkon kamarnya. Tetapi tetap saja aneh kenapa dia masuk ke sini menggunakan sihirnya?

Beatrice menunduk. Dia menatap ke arah Airlea yang berada di sebelah Raicia. "Dia istri Damiane?" tanya Beatrice.

"Ya, dia lah orangnya."

Beatrice tersenyum kemudian mengulurkan tangannya mengusap pundak Airlea. "Anda harus sangat sabar!" pesannya.

Perempuan berambut emas itu melirik tangan Airlea dan terkejut. "Astaga! Aku ingat, aku ke sini karena kabar penyerangan. Anda terluka? Bagaimana bisa? Apa si batu itu tidak melindungi Anda?"

"Sa-saya, ini karena saya tidak hati-hati," jawab Airlea sedikit gugup karena pergelangan tangannya dipegang oleh Beatrice.

"Justru luka ini ada karena dia terlalu baik hati, Yang Mulia," cibir Raicia.

Airlea melirik Raicia. Saat ini gadis cantik di sebelahnya terdengar sangat membenci sang kakak karena tragedi penyerangan itu.

"Ekhem!" Suara itu membuat tiga perempuan yang tengah berbincang menoleh ke sumber suara. Dia Damiane yang baru saja dibicarakan. Wajahnya terlihat kesal. "Ayo, makan!" ajaknya datar.

"Ah, baiklah. Ayo kita makan bersama!"

***

Makanan sudah disajikan dan sekarang ini Airlea agak bingung bagaimana caranya dia memegang sendok. Kemarin dia disuapin oleh Martha pelayan pribadinya. Sekarang, di depan putri bagaimana mungkin Airlea meminta bantuan Martha.

Jika dipaksa ini cukup menyakitkan. Tapi, apa boleh buat.

Perempuan berambut putih kebiruan itu memaksa tangan kanannya untuk memegang sendok dengan susah payah dia terus berusaha menggerakkan tangannya itu.

Drrk!

Suara geseran kursi dibarengi dengan tangan besar yang mencekal tangan kanan Airlea agar tidak bergerak lagi, membuat perempuan itu menoleh. Menatap Damiane yang menghela napas kasar, matanya menatap ke arah makanan Airlea kemudian duduk di sebelah perempuan itu.

"Raicia, bisakah kau mencubit ku sekarang?" tanya sang putri yang tertegun dengan perlakuan Damiane. Dia seperti orang yang berbeda. Dingin tetapi masih tetap hangat.

"Saya mencubit Anda, lalu Anda menampar saya. Agar kita bangkit dari khayalan ini!" sahut Raicia yang juga terdiam karena apa yang terjadi barusan.

Seorang Damiane yang dingin dan selalu bersikap kaku. Kasar dan tidak peduli sekitar, menyuapi istrinya dengan lembut. Ini pasti mimpi. Tak hanya putri dan Raicia, pelayan yang ada di sana saja kaget.

Sementara Airlea yang sedang disuapi saat ini tengah duduk kaku. Merasa tidak nyaman. Entah makanannya saat ini akan tercerna dengan baik atau akan membuatnya sakit perut sebab perasaan tak nyaman. Dia terus menerima suapan dari Damiane.

Di suapan yang sudah entah berapa. Airlea menghentikan gerak sendok Damiane. "Anda juga harus makan."

Damiane diam. Dia baru sadar sejak tadi terus menyuapi Airlea hingga mulut gadis itu penuh seperti tupai yang menyimpan makanan di pipinya. "Baik."

Dengan cepat, sendok yang semula hendak masuk ke mulut Airlea disuapkan ke Damiane sendiri. Padahal itu sendok bekas Airlea. Pemuda itu tampak biasa saja. Sementara yang lain sudah tertegun dan tidak bisa berkata-kata lagi.

Ini seperti bulan Duke Alverd yang mereka kenal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Anak Kucing

    Airlea tidak menyangka jika makanan yang sederhana itu akan menjadi sebuah keajaiban. Setiap hari tanpa bosan Damiane meminta makanan yang dimasak oleh Airlea dan pemuda itu selalu memakan masakan sang istri dengan lahap seolah masakan sederhana itu adalah makanan yang begitu istimewa melebihi masakan koki kediaman Alverd. Kemudian ada hal yang menjadi perkembangan besar menurut Airlea, yaitu adalah Damiane yang setiap kali makan harus dan wajib disuapi oleh Airlea. Aneh? Tentu saja. Hal baru ini tampak tidak serasi dengan badan tegap dan wajah galak Damiane. Hal baru yang tak pernah terbayangkan siapapun ini sempat menghebohkan seluruh kediaman bahkan wilayah Alverd. Tetapi, setelah berlalu cukup lama. Itu menjadi hal biasa karena mereka semua berkata. "Sang penguasa kaku yang dingin telah menemukan matahari hangat yang telah melelehkan dingin dan memberinya hangat." Akan tetapi hari ini Airlea tidak memasak karena sedang ingin bersantai. Toh, juga meskipun

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Sisi Berbeda

    Raicia langsung menyambut Airlea yang baru saja tiba di mansion bersama George. "Bagaimana di sana? Baik-baik saja, 'kan?" tanya Raicia yang terus mengikuti langkah kakak iparnya itu."Iya.""Tidak ada yang sakit? Kau tidak bertemu orang lain selain putri bukan?" tanya Raicia lagi. Gadis itu terus mengekori Airlea. Sedang gadis berambut putih pucat itu hanya fokus ke depan. Tanpa ekspresi. Entah apa yang terjadi di kediaman sang putri tadi siang."Iya." Lagi-lagi jawaban singkat Airlea.Raicia khawatir. Mungkin itu hal yang wajar, bukan hanya karena pertemuan Airlea dengan sang putri yang begitu mendadak dan tanpa alasan pasti tapi karena ini bukan negara Airlea dan perempuan itu adalah putri negara musuh. Seberapa banyak tatapan sinis yang Airlea terima sepanjang jalan? Apakah dia memang baik-baik saja selama tinggal berada di sana? Atau bahkan apakah gadis bertubuh kurus kecil itu tidak baik-baik saja saat berada di sini

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Pertemanan dengan Pemeran utama Wanita

    Kemarin tidak ada yang terjadi setelahnya. Airlea dan Damiane hanya tidur bersama, itu saja. Seperti biasanya Airlea yang tidur dengan Damiane. Pagi hari saat keduanya terbangun, mereka dikejutkan kabar jika Beatrice sudah kembali ke istana dini hari tadi. Tanpa pamit secara langsung, gadis itu meninggalkan sepucuk surat untuk Damiane. Surat yang berisikan ucapan selamat tinggal dan alasan kembalinya dia ke istana secepat itu.Lalu, Airlea yang membuatnya tidak menyangka adalah sang putri menitipkan surat juga untuknya. Sebuah undangan untuk minum teh tiga hari lagi di ibukota. Jujur saja, selama menikah dengan Damiane Airlea jarang keluar. Dia ini terhitung sebagai seorang tahanan mewah. Lagipun Airlea selalu fokus pada hubungannya dan Damiane."Surat? Kau mendapatkan undangan minum teh dari Yang Mulia Putri?" Raicia yang mendengar berita itu terkejut. Lalu dia tampak berpikir sebentar dan wajahnya kembali datar. "Dia mungkin ingin lebih dekat denganmu, Lea. Datan

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Pengakuan Cinta

    Damiane menatap sosok Beatrice yang diam saja di hadapannya. Sungguh, Damiane sendiri tidak mengerti kenapa dia masih di sini. Kakinya sudah hendak bergerak meninggalkan Beatrice untuk mendatangi istrinya yang saat ini berjalan beriringan dengan sang adik. Jarak mereka kian jauh. Namun, niatnya tertunda. Langkah kaki Damiane terhenti saat ucapan Beatrice berikutnya keluar."Ayah," katanya yang membuat Damiane langsung terkesiap. "Ayahku ingin aku bertanya padamu kapan kau akan meresmikan pernikahan ini," ujar Beatrice lagi. Seketika Damiane tertegun, menatap punggung Airlea yang menjauh. Perempuan itu kecil dan saat ini tengah sakit. "Saat Airlea sudah sehat. Aku akan meresmikan hubungan kami," jawab Damiane tanpa ragu. Hal itu membuat Beatrice yang ada di hadapan Damiane diam-diam meremas tangannya. Hati Beatrice agak sesak, tetapi dia tersenyum menatap Damiane. Berusaha menutupi semua yang dia rasakan."Kau ingin menyusul istrimu bukan?"

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Perubahan kecil

    Suasana tegang dan canggung tampak jelas menyelimuti tiga gadis yang tengah duduk sembari sesekali menyeruput teh di cangkir indah yang mereka pegang. Semula ini adalah acara minum teh Airlea dan Raicia di taman kesukaan mendiang Duchess, tetapi mendadak Beatrice datang dan bergabung dengan mereka.Tidak ada alasan untuk menolak kedatangan sang putri. Jadi, pada akhirnya gadis itu bergabung dengan Raicia dan Airlea."Raicia, tadi aku bertanding dengan kakakmu. Tebak siapa yang menang? Haha!" Suara Beatrice mengalihkan pandangan Airlea yang semula menunduk menatap gelasnya. Dia menoleh ke arah Beatrice yang cerita dan Raicia yang selalu memiliki sedikit ekspresi.Jawabannya jelas Beatrice. Ini dialog yang sama di bab ketiga. Semua masih mirip, bagaimana bisa? Apakah memang Airlea tidak bisa merubah semua kesedihan di kehidupan ini? Rasanya sedih setelah perubahan itu, beberapa hal tetap berjalan sesuai alur.'sialan,' maki Airlea dalam hati.

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Racun es

    Airlea membuka matanya. Dia menatap sekitar yang asing. Ini bukan ruang kamarnya. Pertanyaan tentang di mana dia sekarang muncul. Lantas, pandangan netra Magenta Airlea tertuju pada Damiane yang duduk di sisi kanan. Sembari memegang buku. Tatapan Damiane tak tertuju pada buku yang terbuka. Melainkan menatap Airlea yang baru terbangunTanpa kata Damiane beranjak mendekati Airlea dan meletakkan punggung tangannya di atas dahi Airlea yang kebingungan."Kau sedingin salju." Hanya kalimat itu yang terdengar. Kemudian dia menyerahkan satu nampan berisi obat. "Biasanya mana yang kau minum kalau kambuh?" tanya pria bertubuh tegap itu lagi. Airlea menatap obat-obat yang terlihat asing di matanya. Tidak, sekalipun Airlea tidak pernah mengonsumsi obat pereda nyeri kala racun itu kambuh. Jadi, Airlea tidak tahu yang mana. Sejauh ini dia hanya akan diam di sudut kamar. Dengan berlapis-lapis kain untuk menghangatkan tubuh dari efek racun itu. "Aku lupa." Airl

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status