แชร์

6. Racun es

ผู้เขียน: Aadilry
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-11 18:33:00

Alis Airlea menungkik tajam. Dahinya berkerut bersamaan dengan rasa sakit yang mulai merambat menyebar ke seluruh tubuh. Air matanya luruh karena sakit yang dirasakan. Sial sekali hari ini karena racun es itu kambuh saat ini.

Damiane yang bangun sedikit terlambat sangat terkejut merasakan tangan yang dia genggam berubah suhu secara drastis. Tangan Airlea begitu dingin, wajahnya semakin pucat. Damiane tampak panik. Airlea ingin mengatakan pada Damiane untuk tidak perlu terlalu khawatir. Tetapi, bibirnya sulit digerakkan. Dia terlalu lemas dan wajah khawatir Damiane menjadi pemandangan terakhir Airlea sebelum kehilangan kesadaran.

**

Beberapa saat berlalu, tidak tahu sudah berapa lama Airlea terpejam. Saat ini Airlea membuka matanya. Dia menatap sekitar yang asing. Ini bukan ruang kamarnya. Pertanyaan tentang di mana dia sekarang muncul. Lantas, pandangan netra biru Airlea tertuju pada Damiane yang duduk di sisi kanan. Sembari memegang buku. Tatapan Damiane tak tertuju pada buku yang terbuka. Melainkan menatap Airlea yang baru terbangun

Tanpa kata Damiane beranjak mendekati Airlea dan meletakkan punggung tangannya di atas dahi Airlea yang kebingungan.

"Kau sedingin salju." Hanya kalimat itu yang terdengar. Kemudian dia menyerahkan satu nampan berisi beberapa obat. "Biasanya mana yang kau minum kalau kambuh?" tanya pria bertubuh tegap itu lagi.

Airlea menatap obat-obat yang terlihat asing di matanya. Tidak, sekalipun Airlea pernah mengonsumsi obat kala racun itu kambuh. Jadi, Airlea tidak tahu yang mana. Sejauh ini, saat sakit itu kambuh dia hanya akan diam di sudut kamar. Dengan berlapis-lapis kain untuk menghangatkan tubuh dari efek racun itu.

"Aku lupa." Airlea tidak bisa menjawab dengan pasti. Jadi, dia hanya bisa berbohong.

Damiane menghela napas. "Ini saja, kata Cedric ini yang terbaik," ujar Damiane sembari menyerahkan obat di gelas berwarna putih tulang.

Airlea menatap gelas itu. Senyumannya muncul. "Terima kasih," tutur Airlea sebelum menenggak obat tersebut.

Hidup di dua kehidupan berbeda dengan nasib yang hampir sama. Penuh penyiksaan meninggalkan bekas luka yang mengakibatkan trauma. Airlea tidak tahu caranya menghilangkan semua ini, ditambah sakit yang mematikan. Rasanya Airlea percuma hidup kembali jikalau kehidupan kedua sama saja menderita. Tapi sekarang, kebaikan kecil Damiane membuatnya merasa ada setidaknya seseorang yang peduli padanya. Entah bagaimana Damiane sebenarnya, tapi Airlea yakin dia pria baik dan dia tidak bisa mengartikan kebaikan ini sebagai hal yang lebih, sebab dari awal tujuan untuk mendekati Damiane adalah untuk bertahan hidup.

Jika saja Airlea hidup sebagai figuran, jika saja Airlea tidak harus mengikuti rencana untuk membunuh sang putri dan menjadi istri yang baik, dia pasti akan mudah meninggalkan alur novel ini dan hidup bahagia sendirian.

Setelah selesai menghabiskan obatnya, barulah Airlea sadar banyak kain yang menyelimuti tubuhnya saat ini. Melihat itu seulas senyuman kecil muncul. Hati Airlea bersorak atas sedikit kemajuan 'lagi'.

Damiane diam menatap Airlea yang memegang gelas kecil dengan senyumannya. Pemuda itu terus diam menatap sang istri dengan tatapan rumit. Namun, setelah itu dia menjadi sedikit panik saat melihat Airlea menangis

"Kenapa menangis? Apakah masih sakit?" tanya Damiane panik.

Airlea mengusap air matanya cepat. Dia tersenyum kecil. Kemudian menggeleng. "Obatnya pahit." Hanya itu jawaban perempuan berambut perak bertubuh mungil tersebut.

Pemuda di samping Airlea menghela napas kasar. Dia lantas mengusap puncak kepala Airlea singkat.

"Istirahat lah. Aku ingin melanjutkan pekerjaan. Nanti, Raicia akan datang."

Damiane keluar dengan wajah datar. Tanpa menoleh pria itu keluar dari ruang kamarnya yang menjadi tempat istirahat Airlea. Dia pergi seolah tidak pernah memberikan perhatian kecil yang manis untuk Airlea. Memang Damiane begitu, persis seperti novel. Tetapi, itu juga yang membuat dia digemari banyak pembaca dulu.

***

Damiane tidak fokus mengerjakan tugasnya. Sesekali dia menatap telapak tangannya yang kasar dan penuh luka. Tangan yang tadi mengecek suhu tubuh Airlea dan memegang tangan Airlea.

"Dia sedingin salju," tutur Damiane. Masih jelas rasa sengatan dingin dari tubuh Airlea. Perempuan itu seperti bukan manusia. Tubuhnya putih seperti salju, rambutnya juga, dan netra Magenta yang meredup tak secerah biasanya.

Dia seperti seonggok tubuh tanpa nyawa tadi. Rasanya sangat tidak disangka dia akan jadi seperti itu. Airlea sungguh membuat Damiane panik tadi pagi dan terus memanggil semua orang untuk menangani Airlea. Memberikan banyak selimut agar gadis itu hangat, tetapi tubuhnya tetap dingin.

"Efek racun itu memang sangat berbahaya," gumam Damiane lagi.

Kemudian ingatan Damiane datang pada saat Damiane mengusap puncak kepala Airlea. Rambut perempuan itu halus. Putih dan tipis. Lantas setelahnya tidak ada efek apa-apa. Padahal ada rumor jika yang memegang rambut Airlea akan mati.

"Ternyata hanya rumor gila. Apa yang terjadi padanya saat di negara sana? Kenapa banyak hal yang tidak benar terbukti secara langsung? Apa ini hanya drama permainan mereka untuk menjebak kami?" Damiane berujar sembari terus menebak semua kemungkinan yang ada. Mengingat semua hal, berusaha untuk mengetahui motif sebenarnya.

"Apapun itu aku tidak akan termakan rayuan perempuan itu." Damiane tersenyum sinis. "Mengirim perempuan cantik untuk menggodaku adalah hal yang sia-sia saja," imbuhnya sombong.

"Damiane," panggil Beatrice yang menampakkan kepalanya di balik pintu ruang kerja Damiane yang dibuka sedikit.

"Apakah aku boleh masuk?" tanya Beatrice basa-basi.

Damiane mengangguk. Setelah mendapat persetujuan, Beatrice memasuki ruang kerja Damiane.

"Kapan kau kembali ke ibu kota?" tanya Damiane begitu Beatrice memasuki ruangannya.

"Astaga Damiane, aku baru di sini dua hari dan kau sudah mempertanyakan hal itu?" tanya Beatrice dengan nada kecewa sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Damiane. Gadis itu menopang dagunya dengan kedua tangan. "Apakah ini efek karena kau sudah punya istri?"

"Aku hanya memikirkan pandangan orang lain."

"Ck, dasar kau ini," balas Beatrice dengan wajah kesal.

Tetapi, gadis itu seketika merubah ekspresinya. "Oh, iya. Katanya istrimu sakit. Racun es itu bukankah tidak punya penawar? Bukankah ini mempermudah segalanya?" Beatrice berujar dengan semangat. Hal ini seketika mengalihkan fokus Damiane.

"Jangan berpikir hal yang aneh-aneh," sergah Damiane.

Beatrice kembali cemberut. Dia menyandarkan tubuhnya pada bahu kursi. "Kau ini jahat sekali, padahal aku memberi solusi untuk kebaikanmu juga," ucapnya.

Damiane hanya menghela kasar dan menatap Beatrice yang tampak marah. "Apa kau mau berbelanja? Sesuatu yang bisa dibawa ke ibu kota saat pulang nanti?" tawar Damiane yang berusaha mengalihkan perhatian Beatrice.

Beatrice seketika merubah ekspresinya. Dia tersenyum senang. "Boleh. Ayo, kita berbelanja. Lusa aku akan pergi. Tidak tahu apakah nanti akan sempat berbelanja, terima kasih sudah menawarkan," ucap Beatrice yang kemudian mendekati Damiane dan memegang tangan pemuda itu.

Beatrice menarik tangan Damiane, memimpin jalan untuk keluar dari ruang kerja Damiane. Pemuda itu menurut dan mengikuti langkah Beatrice.

"Tapi tidak lama ya, aku masih banyak pekerjaan di sini," ucap Damiane pada Beatrice.

"Baik."

Ketika mereka sudah keluar dari ruang kerja dengan masih bergandengan tangan. Keduanya berpas-pasan dengan Airlea dan Raicia. Keempatnya terkejut dan terdiam untuk beberapa waktu.

Damiane yang sadar cepat melepas genggaman Beatrice. "Kalian, mau ke mana?" tanya pemuda itu untuk mencairkan suasana meskipun pertanyaannya datar.

Airlea menatap Damiane dengan tatapan rumit. Gadis itu hanya diam. Tidak mengeluarkan suara. Tetapi, kemudian seperti biasa. Dia memasang senyuman yang membuat Damiane merasa tidak nyaman.

"Hanya berkeliling," jawab Raicia cepat lalu dia menggandeng tangan Airlea dan membawa gadis itu menjauh dari Damiane dan Beatrice.

Pemuda berambut hitam itu menatap kepergian Airlea cukup lama. Kepalanya mendadak berisik dengan tanya yang belum terjawab dan juga rasa tak nyaman yang menyeruak saat melihat senyuman Airlea. Dia masih diam hingga akhirnya Beatrice menarik tangannya, memberi tanda jika mereka harus pergi saat itu juga.

"Ayo!" seru Beatrice.

"Ah, baik."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   26. Tubuh Rapuh

    Napas Airlea memburu. Berusaha berjalan dengan benar. Tubuh yang terasa sakit dan pegal dia abaikan. Langkah yang tak lihai lagi mulai menapaki tanah perlahan. Berusaha mendapatkan bantuan. Dari kejauhan dia melihat segerombolan orang berjalan ke arahnya. Rasa senang mencuat kala melihat gerombolan orang berkuda itu. Dia mulai berjalan mendekat. Tetapi, fokusnya tertuju pada anak panah dan pedang yang mulai ditujukan ke arah Airlea. Tatap bengis tanpa ampun membuat Airlea sadar jika mereka datang bulan untuk membantu tetapi membunuh.Segera dia berbalik. Berlari secepat mungkin. Mengabaikan semua rasa sakit. Dia harus hidup. Dia harus bertahan. Dia tidak mau cepat mati. Dia masih ingin menikmati kehidupan. Lelah tak terasa, sebab pikiran Airlea hanya kabur.Tetapi, sekeras apa dia mencoba, pasukan itu tampaknya lebih cepat. Dia mulai kehilangan kekuatan. Namun, tampaknya takdir menyayanginya. Seseorang meraih pinggang Airlea dan membawanya ke atas kuda yang sama tepat saat anak pana

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   25. Takdir

    Damiane berdiri di sisi sang istri yang sudah memerah wajahnya karena malu. Seulas senyuman terlihat di wajah tampannya."Aku tidak menyangka jika kau bisa memuji dengan sangat manis," tutur Damiane yang membuat Airlea langsung bergerak bersembunyi di sisi Raicia."Kenapa kau tidak bilang kalau Tuan Duke ada di sini, Cia," bisik Airlea.Raicia hanya tertawa kecil sembari mengusap rambut Airlea. Dia melirik sang kakak yang terus melihat ke arah Airlea. Ada perasaan hangat di hati Raicia melihat perubahan sang kakak. Tetapi, seketika dia tersadar dan alisnya berkerut. Sorot mata gadis itu berubah sedih."Kepalsuan itu terlalu nyata, Damiane," ucap Raicia.Damiane yang menatapi Airlea seketika tertegun. Dia menoleh ke arah Raicia yang sudah menatap datar. Tangan Raicia bergerak seolah menyerahkan Airlea kepada Damiane. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan mereka berdua.Raicia buru-buru pergi. Air matanya tanpa sengaja jatuh. Sakit di hati menjalar dengan cepat. Ada rasa sakit akiba

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   25. Takdir

    Damiane berdiri di sisi sang istri yang sudah memerah wajahnya karena malu. Seulas senyuman terlihat di wajah tampannya."Aku tidak menyangka jika kau bisa memuji dengan sangat manis," tutur Damiane yang membuat Airlea langsung bergerak bersembunyi di sisi Raicia."Kenapa kau tidak bilang kalau Tuan Duke ada di sini, Cia," bisik Airlea.Raicia hanya tertawa kecil sembari mengusap rambut Airlea. Dia melirik sang kakak yang terus melihat ke arah Airlea. Ada perasaan hangat di hati Raicia melihat perubahan sang kakak. Tetapi, seketika dia tersadar dan alisnya berkerut. Sorot mata gadis itu berubah sedih."Kepalsuan itu terlalu nyata, Damiane," ucap Raicia.Damiane yang menatapi Airlea seketika tertegun. Dia menoleh ke arah Raicia yang sudah menatap datar. Tangan Raicia bergerak seolah menyerahkan Airlea kepada Damiane. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan mereka berdua.Raicia buru-buru pergi. Air matanya tanpa sengaja jatuh. Sakit di hati menjalar dengan cepat. Ada rasa sakit akiba

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   24. Suami Sempurna

    Sebelumnya Airlea berpikir jika dia tiba di kediaman Alverd setelah pelarian itu, dia akan dibenci semua orang. Setiap kemungkinan buruk susah menghantui Airlea sebelum dia menginjakkan kaki lagi di kediaman Alverd. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Semua orang menyambut Airlea dengan sangat. Bersorai dan tersenyum hangat seperti biasanya. Raicia yang melihat Airlea sudah tiba langsung memeluknya erat. Dia menangis karena rindu dan khawatir."Kau berada di luar sana untuk waktu yang cukup lama, apakah racun itu tidak menyiksamu? Dia tidak kambuh, 'kan?" kata Raicia diiringi pertanyaan yang membuat hati Airlea hangat.Perempuan berambut putih bagai salju di hadapan Raicia mengusap rambutnya. Dia tampak tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja, Raicia," ucapnya.Raicia menghela napas. Matanya memancarkan rasa syukur. Dia menatap sang kakak nyalang. "Jangan sakiti istrimu lagi," ucapnya sembari memukul Damiane.Damiane tersenyum sembari mengusap lengan yang dipukul sang adik. "Tidak akan

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   23. Pulang

    Sebuah surat misterius datang ke kediaman Alverd. Frass dengan cepat melihat isi dari surat tersebut. Begitu dia membaca isi kepala surat. Pria itu seketika melipat kembali kertas dan memasukkannya ke dalam amplop. Berlari dengan cepat menuju ruang kerja Damiane. "Tuan Duke!" seru Frass begitu dia memasuki ruangan Damiane. Pria bertubuh tegap yang tengah berbincang dengan Lionel menoleh dengan santai. "Ada apa? Sebenernya kabar seperti apa yang kau terima sampai berlari seperti itu, Frass?" tanya Damiane sembari menandatangani dokumen yang dibawa Lionel. Frass menyerahkan amplop misterius itu. "Ada sebuah surat yang tampaknya dari Nyonya," jelas Frass. Pria itu seketika menghentikan gerak penanya. Dia menoleh ke arah Frass yang mengangguk sembari tersenyum senang. Damiane langsung mengambil surat itu. Meletakkan penanya. Lionel yang ada di sana juga turut oenasana. Tetapi, di satu sisi hati Damiane juga sedikit resah dengan semua kemungkinan yang ada. Bisa saja Airlea kekeu

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   22. Alasan untuk Bertahan

    Jendela rumah sederhana di tengah desa pinggir kota itu terbuka. Menampilkan sosok perempuan dengan rambut pirang yang cantik. Anak-anak yang bermain di halaman rumahnya langsung menyapa perempuan cantik itu. Perempuan cantik yang dikenal sebagai tetangga baru yang baik hati. Dialah Airlea. Untuk menjalani hidup nyaman dia menyamar sebagai orang lain. Mewarnai rambutnya seperti dia yang dulu sebelum diracuni oleh racun es. Airlea keluar dari rumahnya. Menyapa anak-anak dan bermain dengan mereka di halaman kecil rumahnya. "Lea," panggil seseorang. Perempuan itu tersentak. Dia langsung menoleh ke sumber suara. Selama di desa dia mengaku sebagai gadis bernama Aira. Jantung Airlea bergemuruh begitu melihat sosok yang memanggilnya. Dia adalah kakak laki-laki ketiga. Cail De Farn. Wajah pemuda itu tampak lega saat melihat sosok Airlea di hadapannya. Pemuda itu langsung memeluk sang adik. "Wah, apakah kakak tampan ini kekasih Kak Aira?" tanya salah satu anak kecil. "Bukan

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   10. Sisi Berbeda

    Raicia langsung menyambut Airlea yang baru saja tiba di mansion bersama George. "Bagaimana di sana? Baik-baik saja, 'kan?" tanya Raicia yang terus mengikuti langkah kakak iparnya itu. "Iya." "Tidak ada yang sakit? Kau tidak bertemu orang lain selain putri bukan?" tanya Raicia lagi. Gadis i

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   9. Pertemanan dengan Pemeran utama Wanita

    Kemarin tidak ada yang terjadi setelahnya. Airlea dan Damiane hanya tidur bersama, itu saja. Seperti biasanya Airlea yang tidur dengan Damiane. Pagi hari saat keduanya terbangun, mereka dikejutkan kabar jika Beatrice sudah kembali ke istana dini hari tadi. Tanpa pamit secara langsung, gadis itu meni

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   5. Rencana Awal yang Cukup Gila

    Seorang perempuan dengan gaun tidur berwarna kuning pucat berjalan melintasi lorong gelap sembari memeluk bantal putih miliknya. Berjalan dengan sungguh-sungguh menuju suatu tempat dengan tekat kuat. Tetapi, sesaat kemudian, gadis dengan rambut putih itu menghentikan langkahnya. Memejamkan mata dan

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   4. Perubahan Sang Duke

    "Lea, apa Anda ingin mati? Hari ini tangan besok apa lagi? Anda 'kan bisa menarik tubuh kakak untuk menghindar, kenapa malah melindunginya dengan tanganmu? Apa Anda sadar jika apa yang Anda lakukan tidak akan mengubah perasaan pria itu?" Raicia tak berhenti mengoceh sejak tadi. Dia sesekali melirik

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status