Share

Racun es

Author: Aadilry
last update Last Updated: 2026-01-11 18:33:00

Airlea membuka matanya. Dia menatap sekitar yang asing. Ini bukan ruang kamarnya. Pertanyaan tentang di mana dia sekarang muncul. Lantas, pandangan netra Magenta Airlea tertuju pada Damiane yang duduk di sisi kanan. Sembari memegang buku. Tatapan Damiane tak tertuju pada buku yang terbuka. Melainkan menatap Airlea yang baru terbangun

Tanpa kata Damiane beranjak mendekati Airlea dan meletakkan punggung tangannya di atas dahi Airlea yang kebingungan.

"Kau sedingin salju." Hanya kalimat itu yang terdengar. Kemudian dia menyerahkan satu nampan berisi obat. "Biasanya mana yang kau minum kalau kambuh?" tanya pria bertubuh tegap itu lagi.

Airlea menatap obat-obat yang terlihat asing di matanya. Tidak, sekalipun Airlea tidak pernah mengonsumsi obat pereda nyeri kala racun itu kambuh. Jadi, Airlea tidak tahu yang mana. Sejauh ini dia hanya akan diam di sudut kamar. Dengan berlapis-lapis kain untuk menghangatkan tubuh dari efek racun itu.

"Aku lupa." Airlea tidak bisa menjawab dengan pasti. Jadi, dia hanya bisa berbohong.

Damiane menghela napas. "Ini saja, kata Cedric ini yang terbaik," ujar Damiane sembari menyerahkan obat di gelas berwarna putih tulang.

Airlea menatap gelas itu. Senyumannya muncul dan air mata tanpa sadar mengalir. "Terima kasih," tutur Airlea sebelum menenggak obat tersebut.

Hidup di dua kehidupan berbeda dengan nasib yang hampir sama. Penuh penyiksaan meninggalkan bekas luka yang mengakibatkan trauma. Airlea tidak tahu caranya menghilangkan semua ini, ditambah sakit yang mematikan. Rasanya Airlea percuma hidup kembali jikalau kehidupannya sama menderita. Tapi sekarang, kebaikan kecil Damiane membuatnya merasa ada setidaknya seseorang yang peduli padanya. Entah bagaimana Damiane sebenarnya, tapi Airlea yakin dia pria baik.

Jika saja Airlea hidup nyaman, jika saja Airlea tidak mengikuti rencana untuk membunuh sang putri dan menjadi istri yang baik, kemudian meninggalkan Damiane untuk bahagia bersama Beatrice. Mungkinkah kebahagiaan akan datang?

Setelah menenggak obat, barulah Airlea sadar banyaknya kain yang menyelimuti tubuhnya saat ini. Sebuah senyuman kecil muncul di bibirnya.

Damiane diam menatap Airlea yang memegang gelas kecil dengan senyumannya. Ingatannya memutar pada kejadian pagi lalu di mana Airlea menangis dan mengatakan untuk jangan membunuhnya. Hal itu sedikit membuat Damiane tersenyum miris.

Air mata Airlea mengalihkan niatnya. "Kenapa menangis?" tanya Damiane agak panik.

Airlea mengusap air matanya cepat. Dia tersenyum kecil. Kemudian menggeleng. "Obatnya pahit." Hanya itu jawaban perempuan berambut perak bertubuh mungil tersebut.

Pemuda di samping Airlea menghela napas kasar. Dia tidak bisa memaksa untuk mendapatkan jawaban lebih. Mereka belum ada di tahap yang bisa berbagi cerita sedalam itu.

"Istirahat lah. Aku ingin melanjutkan pekerjaan. Nanti, Raicia akan datang."

Damiane keluar dengan wajah datar. Tanpa menoleh pria itu keluar dari ruang kamarnya yang menjadi tempat istirahat Airlea. Dia pergi seolah tidak pernah memberikan perhatian kecil yang manis untuk Airlea. Memang Damiane begitu, persis seperti novel. Tetapi, itu juga yang membuat dia digemari banyak pembaca dulu.

***

Damiane tidak mengerjakan tugasnya. Tetapi, selama satu jam dia habiskan dengan hanya menatap telapak tangannya yang kasar dan penuh luka.

"Dia sedingin salju," tutur Damiane. Masih jelas rasa sengatan dingin dari tubuh Airlea. Perempuan itu seperti bukan manusia. Tubuhnya putih seperti salju, rambutnya juga, dan netra Magenta yang meredup tak secerah biasanya.

Dia seperti seonggok tubuh tanpa nyawa tadi. Rasanya sangat tidak disangka dia akan jadi seperti itu dini hari tadi. Di malam sebelumnya mereka memutuskan untuk tidur bersama selagi ada Beatrice di sini. Hari sebelumnya Airlea masih baik saja. Tetapi, dini hari tadi tidak. Itu yang membuat Damiane panik.

Dia memanggil semua orang untuk menangani Airlea. Memberikan banyak selimut agar gadis itu hangat, tetapi tubuhnya tetap dingin.

"Efek racun itu memang sangat berbahaya," gumam Damiane lagi.

Kemudian ingatannya datang pada saat Damiane mengusap puncak kepala Airlea. Rambut perempuan itu halus. Putih dan tipis. Lantas setelahnya tidak ada efek apa-apa. Padahal ada rumor jika yang memegang rambut Airlea akan mati.

"Ternyata hanya rumor gila. Apa yang terjadi padanya saat di negara sana? Kenapa banyak hal yang tidak benar terbukti secara langsung? Apa ini hanya drama permainan mereka untuk menjebak kami?" Damiane berujar sembari terus menebak semua kemungkinan yang ada. Mengingat semua hal, berusaha untuk mengetahui motif sebenarnya.

"Apapun itu aku tidak akan termakan rayuan perempuan itu." Damiane tersenyum sinis. "Mengirim perempuan cantik untuk menggodaku adalah hal yang sia-sia saja," imbuhnya sombong.

"Damiane," panggil Beatrice yang menampakkan kepalanya di balik pintu ruang kerja Damiane yang dibuka sedikit.

"Apakah aku boleh masuk?" tanya Beatrice basa-basi.

Damiane mengangguk. Setelah mendapat persetujuan, Beatrice memasuki kamar.

"Kapan kau kembali ke ibu kota?" tanya Damiane begitu Beatrice memasuki ruangannya.

"Astaga Damiane, aku baru di sini dua hari dan kau sudah mempertanyakan hal itu?" tanya Beatrice dengan nada kecewa sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Damiane. Gadis itu menopang dagunya dengan kedua tangan. "Apakah ini efek karena kau sudah punya istri?"

"Aku hanya memikirkan pandangan orang lain."

"Ck, dasar kau ini," balas Beatrice dengan wajah kesal.

Tetapi, gadis itu seketika merubah ekspresinya. "Oh, iya. Katanya istrimu sakit. Racun es itu bukankah tidak punya penawar? Bukankah ini mempermudah segalanya?" Beatrice berujar dengan semangat. Hal ini seketika mengalihkan fokus Damiane.

"Jangan berpikir hal yang aneh-aneh," sergah Damiane.

Beatrice kembali cemberut. Dia menyandarkan tubuhnya pada bahu kursi. "Kau ini jahat sekali," ucapnya.

Damiane hanya menghela kasar dan menatap Beatrice yang tampak marah. "Apa kau mau berbelanja? Sesuatu yang bisa dibawa ke ibu kota saat pulang nanti?" tawar Damiane.

Beatrice seketika merubah ekspresinya. Dia tersenyum senang. "Boleh. Ayo, kita berbelanja. Lusa aku akan pergi. Tidak tahu apakah nanti akan sempat berbelanja, terima kasih sudah menawarkan," ucap Beatrice yang kemudian mendekati Damiane dan memegang tangan pemuda itu.

Damiane menurut dan mengikuti langkah Beatrice yang membawanya keluar dari ruang kerja. "Tapi tidak lama ya, aku masih banyak pekerjaan di sini," ucap Damiane pada Beatrice.

"Baik."

Ketika mereka sudah keluar dari ruang kerja dengan masih bergandengan tangan. Keduanya berpas-pasan dengan Airlea dan Raicia. Keempatnya terkejut dan terdiam untuk beberapa waktu.

Damiane yang sadar cepat melepas genggaman Beatrice. "Kalian, mau ke mana?" tanya pemuda itu.

Airlea menatap Damiane datar.

"Hanya berkeliling," jawab Raicia cepat lalu dia menggandeng tangan Airlea dan membawa gadis itu menjauh dari Damiane dan Beatrice.

Pemuda berambut hitam itu menatap kepergian Airlea cukup lama. Hingga akhirnya Beatrice menarik tangannya, memberi tanda jika mereka harus pergi saat itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Anak Kucing

    Airlea tidak menyangka jika makanan yang sederhana itu akan menjadi sebuah keajaiban. Setiap hari tanpa bosan Damiane meminta makanan yang dimasak oleh Airlea dan pemuda itu selalu memakan masakan sang istri dengan lahap seolah masakan sederhana itu adalah makanan yang begitu istimewa melebihi masakan koki kediaman Alverd. Kemudian ada hal yang menjadi perkembangan besar menurut Airlea, yaitu adalah Damiane yang setiap kali makan harus dan wajib disuapi oleh Airlea. Aneh? Tentu saja. Hal baru ini tampak tidak serasi dengan badan tegap dan wajah galak Damiane. Hal baru yang tak pernah terbayangkan siapapun ini sempat menghebohkan seluruh kediaman bahkan wilayah Alverd. Tetapi, setelah berlalu cukup lama. Itu menjadi hal biasa karena mereka semua berkata. "Sang penguasa kaku yang dingin telah menemukan matahari hangat yang telah melelehkan dingin dan memberinya hangat." Akan tetapi hari ini Airlea tidak memasak karena sedang ingin bersantai. Toh, juga meskipun

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Sisi Berbeda

    Raicia langsung menyambut Airlea yang baru saja tiba di mansion bersama George. "Bagaimana di sana? Baik-baik saja, 'kan?" tanya Raicia yang terus mengikuti langkah kakak iparnya itu."Iya.""Tidak ada yang sakit? Kau tidak bertemu orang lain selain putri bukan?" tanya Raicia lagi. Gadis itu terus mengekori Airlea. Sedang gadis berambut putih pucat itu hanya fokus ke depan. Tanpa ekspresi. Entah apa yang terjadi di kediaman sang putri tadi siang."Iya." Lagi-lagi jawaban singkat Airlea.Raicia khawatir. Mungkin itu hal yang wajar, bukan hanya karena pertemuan Airlea dengan sang putri yang begitu mendadak dan tanpa alasan pasti tapi karena ini bukan negara Airlea dan perempuan itu adalah putri negara musuh. Seberapa banyak tatapan sinis yang Airlea terima sepanjang jalan? Apakah dia memang baik-baik saja selama tinggal berada di sana? Atau bahkan apakah gadis bertubuh kurus kecil itu tidak baik-baik saja saat berada di sini

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Pertemanan dengan Pemeran utama Wanita

    Kemarin tidak ada yang terjadi setelahnya. Airlea dan Damiane hanya tidur bersama, itu saja. Seperti biasanya Airlea yang tidur dengan Damiane. Pagi hari saat keduanya terbangun, mereka dikejutkan kabar jika Beatrice sudah kembali ke istana dini hari tadi. Tanpa pamit secara langsung, gadis itu meninggalkan sepucuk surat untuk Damiane. Surat yang berisikan ucapan selamat tinggal dan alasan kembalinya dia ke istana secepat itu.Lalu, Airlea yang membuatnya tidak menyangka adalah sang putri menitipkan surat juga untuknya. Sebuah undangan untuk minum teh tiga hari lagi di ibukota. Jujur saja, selama menikah dengan Damiane Airlea jarang keluar. Dia ini terhitung sebagai seorang tahanan mewah. Lagipun Airlea selalu fokus pada hubungannya dan Damiane."Surat? Kau mendapatkan undangan minum teh dari Yang Mulia Putri?" Raicia yang mendengar berita itu terkejut. Lalu dia tampak berpikir sebentar dan wajahnya kembali datar. "Dia mungkin ingin lebih dekat denganmu, Lea. Datan

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Pengakuan Cinta

    Damiane menatap sosok Beatrice yang diam saja di hadapannya. Sungguh, Damiane sendiri tidak mengerti kenapa dia masih di sini. Kakinya sudah hendak bergerak meninggalkan Beatrice untuk mendatangi istrinya yang saat ini berjalan beriringan dengan sang adik. Jarak mereka kian jauh. Namun, niatnya tertunda. Langkah kaki Damiane terhenti saat ucapan Beatrice berikutnya keluar."Ayah," katanya yang membuat Damiane langsung terkesiap. "Ayahku ingin aku bertanya padamu kapan kau akan meresmikan pernikahan ini," ujar Beatrice lagi. Seketika Damiane tertegun, menatap punggung Airlea yang menjauh. Perempuan itu kecil dan saat ini tengah sakit. "Saat Airlea sudah sehat. Aku akan meresmikan hubungan kami," jawab Damiane tanpa ragu. Hal itu membuat Beatrice yang ada di hadapan Damiane diam-diam meremas tangannya. Hati Beatrice agak sesak, tetapi dia tersenyum menatap Damiane. Berusaha menutupi semua yang dia rasakan."Kau ingin menyusul istrimu bukan?"

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Perubahan kecil

    Suasana tegang dan canggung tampak jelas menyelimuti tiga gadis yang tengah duduk sembari sesekali menyeruput teh di cangkir indah yang mereka pegang. Semula ini adalah acara minum teh Airlea dan Raicia di taman kesukaan mendiang Duchess, tetapi mendadak Beatrice datang dan bergabung dengan mereka.Tidak ada alasan untuk menolak kedatangan sang putri. Jadi, pada akhirnya gadis itu bergabung dengan Raicia dan Airlea."Raicia, tadi aku bertanding dengan kakakmu. Tebak siapa yang menang? Haha!" Suara Beatrice mengalihkan pandangan Airlea yang semula menunduk menatap gelasnya. Dia menoleh ke arah Beatrice yang cerita dan Raicia yang selalu memiliki sedikit ekspresi.Jawabannya jelas Beatrice. Ini dialog yang sama di bab ketiga. Semua masih mirip, bagaimana bisa? Apakah memang Airlea tidak bisa merubah semua kesedihan di kehidupan ini? Rasanya sedih setelah perubahan itu, beberapa hal tetap berjalan sesuai alur.'sialan,' maki Airlea dalam hati.

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Racun es

    Airlea membuka matanya. Dia menatap sekitar yang asing. Ini bukan ruang kamarnya. Pertanyaan tentang di mana dia sekarang muncul. Lantas, pandangan netra Magenta Airlea tertuju pada Damiane yang duduk di sisi kanan. Sembari memegang buku. Tatapan Damiane tak tertuju pada buku yang terbuka. Melainkan menatap Airlea yang baru terbangunTanpa kata Damiane beranjak mendekati Airlea dan meletakkan punggung tangannya di atas dahi Airlea yang kebingungan."Kau sedingin salju." Hanya kalimat itu yang terdengar. Kemudian dia menyerahkan satu nampan berisi obat. "Biasanya mana yang kau minum kalau kambuh?" tanya pria bertubuh tegap itu lagi. Airlea menatap obat-obat yang terlihat asing di matanya. Tidak, sekalipun Airlea tidak pernah mengonsumsi obat pereda nyeri kala racun itu kambuh. Jadi, Airlea tidak tahu yang mana. Sejauh ini dia hanya akan diam di sudut kamar. Dengan berlapis-lapis kain untuk menghangatkan tubuh dari efek racun itu. "Aku lupa." Airl

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status