Home / Fantasi / Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku / Rencana Awal yang Cukup Gila

Share

Rencana Awal yang Cukup Gila

Author: Aadilry
last update Last Updated: 2026-01-11 00:51:40

Seorang perempuan dengan gaun tidur berwarna kuning pucat berjalan melintasi lorong gelap sembari memeluk bantal putih miliknya. Berjalan dengan sungguh-sungguh menuju suatu tempat dengan tekat kuat. Tetapi, sesaat kemudian, gadis dengan rambut putih itu menghentikan langkahnya. Memejamkan mata dan meremas bantal yang sejak tadi dia pegang. Airlea malam ini ingin memulai rencana pendekatan dengan Damiane.

Dimulai dari sebuah langkah yang tak biasa, berhubung ada kesempatan. Yaitu; malam ini Airlea ingin tidur dengan Damiane. Jangan berpikir aneh, hanya tidur bulan yang 'itu'.

Akan tetapi, keraguan mendadak menyelimuti Airlea mengingat bagaimana cintanya Damiane kepada Beatrice di novel. Tetapi, kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya. Dia berusaha menghilangkan pemikiran itu agar kembali fokus pada tujuan utamanya untuk tetap berada pada tekad mengubah alur cerita untuk bisa hidup lebih lama.

"Ah, lakukan sajalah. Daripada tidak sama sekali. Tidak menjadi orang yang dicintai, setidaknya bisa menjadi istri yang baik dan bisa menjadi teman baik, tanpa mengkhianati agar tidak mati," gumam Airlea untuk meyakinkan dirinya akan rencana yang sudah dia rangkai.

Jujur saja, rencana awal ini cukup gila. Entah, Damiane akan setuju atau tidak.

Airlea mengangkat tangannya mengetuk pintu. "Duke."

Lama tak ada sahutan. Airlea kembali hendak mengetuk pintu dan memanggil Damiane lagi. Tetapi, pintu mendadak terbuka tepat saat Airlea mulai mengetuk. Sehingga di detik itu yang diketuk bukan pintu melainkan dada bidang Damiane yang terumbar karena kemeja yang terbuka.

"Ada apa?" sahutnya dengan suara berat Damiane seketika membuat Airlea gugup.

Dia menarik tangannya dan mulai memasang senyuman. Tetapi yang terjadi kemudian senyuman itu hilang kala dia mendapati seseorang berada di ruangan itu.

"Damiane! Siapa yang datang?" Suara samar itu terdengar dari dalam ruang kamar Damiane. Gadis dengan wajah cantik itu keluar dari kamar dengan rambut yang sedikit berantakan. Tidak ada orang yang bisa berpikir positif termasuk Airlea saat ini.

"Ah, Airlea. Kalau begitu aku pergi ya, sebab istrimu ada di sini," ucap Beatrice yang kemudian melangkah keluar. Tetapi, lengannya dicekal Damiane.

"Tetap di sini. Aku ingin bicara denganmu," ucap Damiane yang semakin membuat Airlea putus harapan. Dia memeluk bantalnya kian erat.

"Kau butuh apa?" tanya Damiane datar.

Padahal siang tadi dia baik. Apakah Airlea salah mengartikan? Dia terlalu berharap pada perubahan Damiane untuk bertahan hidup. Airlea terlalu larut dalam kebaikan singkat itu.

Gadis tersebut tersenyum getir. Suami di kehidupan lalu dan sekarang sama saja ternyata.

Airlea mulai melangkah mundur. Tetapi mendadak langkah itu terhenti. "Eh?" Dia terdiam. Seperti tersadar oleh sesuatu. Dia kembali melangkah maju. Tersenyum manis dan mendongak menatap Damiane.

"Ayo, kita tidur. Ini sudah malam," ujar gadis itu dengan suara lembut dan manja. Jika boleh jujur saat ini Airlea sedikit geli atas perlakuan dirinya.

Beatrice langsung tertawa hambar. Dia menatap Damiane sekilas. Kemudian berpamitan. Hal itu terjadi sangat cepat. Damiane juga tidak menghalangi Beatrice. Mendadak suasana menjadi hening, sekarang hanya ada Airlea dan Damiane. Damiane diam di depan pintu. Sorot matanya menatap Airlea yang jelas ketakutan. Tetapi, gadis itu menunduk dan melangkah perlahan memasuki kamar melalui sedikit celah pintu yang tersisa.

Begitu Airlea masuk, Damiane masuk ke kamar dan menutup pintu.

"Maafkan aku." kalimat itu muncul begitu saja. Gadis yang tadi bertindak berani mendadak diam ketakutan.

Damiane menepuk bahu Airlea dan mencengkeram sedikit erat. Lalu hela napas kasar terdengar. Damiane melepaskan cengkeraman itu.

"Tidurlah terlebih dahulu," ujarnya.

Airlea mematung di detik itu juga. Dadanya terasa sesak. Batin Airlea memaki dirinya yang lemah. Rasa takut terhadap Damiane sangat besar sebenarnya. Ingatan bagaimana rasa sakit dahulu dan nanti akan datang. Apalagi penderitaan di kediamannya dahulu. Membuat dada Airlea sesak. Gadis itu berusaha mengendalikan diri. Menarik napas dalam.

"Ma-maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku, Yang Mulia Duke! Maafkan aku."

Di saat itulah Damiane tampak bingung. Gadis itu menunduk menangis. Lantas yang terjadi berikut membuat Damiane terkejut. Gadis itu menampar pipinya dengan sangat kuat. Sekali Damiane tidak bisa mencegahnya. Tetapi, saat dia hendak menampar diri untuk kedua kali. Damiane langsung mencekal tangan Airlea. Tangan kirinya yang menampar pipi sendiri dengan cukup keras.

"Putri, Anda kenapa?" tanya Damiane dengan suara gemetar.

Napas Airlea masih tak karuan. Dia menunduk dalam. Memejamkan mata sesaat kemudian mendongak mendapat sang suami. Tersenyum getir. Lalu gadis itu melepaskan genggaman tangan Damiane. Tetapi, pemuda itu kembali meraih tangan Airlea. Damiane menghela napasnya kemudian menarik Airlea perlahan menuju tempat tidur.

"Tidurlah."

Damiane memerintahkan Airlea untuk tidur. Di saat itu gadis dengan rambut putih tersebut menurut. Dia mulai menaiki tempat tidur dengan Damiane yang masih berusaha memegang tangannya. Damiane menarik sebuah kursi kecil dan duduk di dekat ranjang. Dengan masih menggenggam tangan Airlea.

"Tidakkah Anda ingin tidur juga?" tanya Airlea dengan suara yang sedikit gemetar.

"Tidurlah dahulu, aku akan tidur saat kau sudah tidur," ucapnya pada Airlea.

Gadis itu menurut. Dia memejamkan mata. Niatnya agar Damiane cepat tidur, sebab pasti sebagai seorang Duke ada banyak pekerjaan menanti besok.

Damiane terus menatap wajah Airlea yang matanya terpejam. Sampai napas gadis itu teratur. Dia mulai menaiki ranjang. Tetapi, tidak melepaskan genggaman tangannya. Dia masih memegang erat tangan Airlea yang dingin.

Pikiran Damiane mendadak rumit saat dia menatap sosok Airlea yang tertidur telentang seperti gadis kecil yang manis.

"Benarkah dia putri yang serakah itu?" tanya Damiane pada dirinya sendiri.

***

Airlea membuka mata. Terkejut mendapati Damiane yang masih tertidur pulas dengan tangannya yang melingkar di pinggang ramping miliknya.

Pagi sudah tiba. Damiane masih tertidur. Airlea yang tidak mau melewatkan pemandangan indah itu menatap wajah tampan Damiane yang tengah tertidur lamat-lamat.

Memperhatikan garis tegas wajahnya. Hidung mancung yang sempurna. Bagai model terkenal. Dia sangat sempurna.

"Jika kau bukan Damiane, mungkin kita bisa berakhir sedikit lebih baik," gumam Airlea.

Dia menatap tangan Damiane yang masih setia menggenggam tangannya. Tangan yang saat ini menggenggam erat itu pula tangan yang akan membunuhnya.

"Bisakah kau tidak membunuhku nanti, Damiane? Jika tidak sebagai istrimu. Aku ingin hidup bahagia sebagai diriku," gumam Airlea lagi masih dengan menatap wajah Damiane.

Gadis itu menghela napas. Dia mungkin sudah gila berharap pada orang yang akan membunuhnya untuk tidak membunuh. Tapi, sungguh, meskipun itu gila dan mustahil. Dia begitu ingin hal tersebut menjadi nyata. Namun, Airlea masih bingung apa yang harus dia lakukan dengan pasti untuk mengubah alur cerita yang akan membunuhnya itu.

"Kumohon, jangan bunuh aku," ucap Airlea sekali lagi sembari mengecup dahi Damiane lembut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Anak Kucing

    Airlea tidak menyangka jika makanan yang sederhana itu akan menjadi sebuah keajaiban. Setiap hari tanpa bosan Damiane meminta makanan yang dimasak oleh Airlea dan pemuda itu selalu memakan masakan sang istri dengan lahap seolah masakan sederhana itu adalah makanan yang begitu istimewa melebihi masakan koki kediaman Alverd. Kemudian ada hal yang menjadi perkembangan besar menurut Airlea, yaitu adalah Damiane yang setiap kali makan harus dan wajib disuapi oleh Airlea. Aneh? Tentu saja. Hal baru ini tampak tidak serasi dengan badan tegap dan wajah galak Damiane. Hal baru yang tak pernah terbayangkan siapapun ini sempat menghebohkan seluruh kediaman bahkan wilayah Alverd. Tetapi, setelah berlalu cukup lama. Itu menjadi hal biasa karena mereka semua berkata. "Sang penguasa kaku yang dingin telah menemukan matahari hangat yang telah melelehkan dingin dan memberinya hangat." Akan tetapi hari ini Airlea tidak memasak karena sedang ingin bersantai. Toh, juga meskipun

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Sisi Berbeda

    Raicia langsung menyambut Airlea yang baru saja tiba di mansion bersama George. "Bagaimana di sana? Baik-baik saja, 'kan?" tanya Raicia yang terus mengikuti langkah kakak iparnya itu."Iya.""Tidak ada yang sakit? Kau tidak bertemu orang lain selain putri bukan?" tanya Raicia lagi. Gadis itu terus mengekori Airlea. Sedang gadis berambut putih pucat itu hanya fokus ke depan. Tanpa ekspresi. Entah apa yang terjadi di kediaman sang putri tadi siang."Iya." Lagi-lagi jawaban singkat Airlea.Raicia khawatir. Mungkin itu hal yang wajar, bukan hanya karena pertemuan Airlea dengan sang putri yang begitu mendadak dan tanpa alasan pasti tapi karena ini bukan negara Airlea dan perempuan itu adalah putri negara musuh. Seberapa banyak tatapan sinis yang Airlea terima sepanjang jalan? Apakah dia memang baik-baik saja selama tinggal berada di sana? Atau bahkan apakah gadis bertubuh kurus kecil itu tidak baik-baik saja saat berada di sini

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Pertemanan dengan Pemeran utama Wanita

    Kemarin tidak ada yang terjadi setelahnya. Airlea dan Damiane hanya tidur bersama, itu saja. Seperti biasanya Airlea yang tidur dengan Damiane. Pagi hari saat keduanya terbangun, mereka dikejutkan kabar jika Beatrice sudah kembali ke istana dini hari tadi. Tanpa pamit secara langsung, gadis itu meninggalkan sepucuk surat untuk Damiane. Surat yang berisikan ucapan selamat tinggal dan alasan kembalinya dia ke istana secepat itu.Lalu, Airlea yang membuatnya tidak menyangka adalah sang putri menitipkan surat juga untuknya. Sebuah undangan untuk minum teh tiga hari lagi di ibukota. Jujur saja, selama menikah dengan Damiane Airlea jarang keluar. Dia ini terhitung sebagai seorang tahanan mewah. Lagipun Airlea selalu fokus pada hubungannya dan Damiane."Surat? Kau mendapatkan undangan minum teh dari Yang Mulia Putri?" Raicia yang mendengar berita itu terkejut. Lalu dia tampak berpikir sebentar dan wajahnya kembali datar. "Dia mungkin ingin lebih dekat denganmu, Lea. Datan

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Pengakuan Cinta

    Damiane menatap sosok Beatrice yang diam saja di hadapannya. Sungguh, Damiane sendiri tidak mengerti kenapa dia masih di sini. Kakinya sudah hendak bergerak meninggalkan Beatrice untuk mendatangi istrinya yang saat ini berjalan beriringan dengan sang adik. Jarak mereka kian jauh. Namun, niatnya tertunda. Langkah kaki Damiane terhenti saat ucapan Beatrice berikutnya keluar."Ayah," katanya yang membuat Damiane langsung terkesiap. "Ayahku ingin aku bertanya padamu kapan kau akan meresmikan pernikahan ini," ujar Beatrice lagi. Seketika Damiane tertegun, menatap punggung Airlea yang menjauh. Perempuan itu kecil dan saat ini tengah sakit. "Saat Airlea sudah sehat. Aku akan meresmikan hubungan kami," jawab Damiane tanpa ragu. Hal itu membuat Beatrice yang ada di hadapan Damiane diam-diam meremas tangannya. Hati Beatrice agak sesak, tetapi dia tersenyum menatap Damiane. Berusaha menutupi semua yang dia rasakan."Kau ingin menyusul istrimu bukan?"

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Perubahan kecil

    Suasana tegang dan canggung tampak jelas menyelimuti tiga gadis yang tengah duduk sembari sesekali menyeruput teh di cangkir indah yang mereka pegang. Semula ini adalah acara minum teh Airlea dan Raicia di taman kesukaan mendiang Duchess, tetapi mendadak Beatrice datang dan bergabung dengan mereka.Tidak ada alasan untuk menolak kedatangan sang putri. Jadi, pada akhirnya gadis itu bergabung dengan Raicia dan Airlea."Raicia, tadi aku bertanding dengan kakakmu. Tebak siapa yang menang? Haha!" Suara Beatrice mengalihkan pandangan Airlea yang semula menunduk menatap gelasnya. Dia menoleh ke arah Beatrice yang cerita dan Raicia yang selalu memiliki sedikit ekspresi.Jawabannya jelas Beatrice. Ini dialog yang sama di bab ketiga. Semua masih mirip, bagaimana bisa? Apakah memang Airlea tidak bisa merubah semua kesedihan di kehidupan ini? Rasanya sedih setelah perubahan itu, beberapa hal tetap berjalan sesuai alur.'sialan,' maki Airlea dalam hati.

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   Racun es

    Airlea membuka matanya. Dia menatap sekitar yang asing. Ini bukan ruang kamarnya. Pertanyaan tentang di mana dia sekarang muncul. Lantas, pandangan netra Magenta Airlea tertuju pada Damiane yang duduk di sisi kanan. Sembari memegang buku. Tatapan Damiane tak tertuju pada buku yang terbuka. Melainkan menatap Airlea yang baru terbangunTanpa kata Damiane beranjak mendekati Airlea dan meletakkan punggung tangannya di atas dahi Airlea yang kebingungan."Kau sedingin salju." Hanya kalimat itu yang terdengar. Kemudian dia menyerahkan satu nampan berisi obat. "Biasanya mana yang kau minum kalau kambuh?" tanya pria bertubuh tegap itu lagi. Airlea menatap obat-obat yang terlihat asing di matanya. Tidak, sekalipun Airlea tidak pernah mengonsumsi obat pereda nyeri kala racun itu kambuh. Jadi, Airlea tidak tahu yang mana. Sejauh ini dia hanya akan diam di sudut kamar. Dengan berlapis-lapis kain untuk menghangatkan tubuh dari efek racun itu. "Aku lupa." Airl

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status