แชร์

3. Serangan

ผู้เขียน: Aadilry
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-06 15:54:46

Cuaca keesokan hari begitu cerah, matahari bersinar terang, tetapi suasana di rumah kaca siang itu sangat dingin terasa. Belum ada perbincangan sejak tadi. Membuat Airlea terus menenggak saliva karena canggung.

Airlea yakin tujuan Damiane membawanya untuk minum teh bersama itu untuk menyelidiki dirinya, karena hal ini tak melenceng sedikitpun dari novel. Semua kisah benar-benar sama. Tanpa ada sesuatu yang hilang sedikitpun.

"Minumlah," suruh Damiane seraya mendorong gelas teh yang ada di tengah meja.

"Ah, iya." Airlea menerima gelas dengan canggung, tertawa pelan sebelum meminum teh itu. Matanya seketika berbinar ketika rasa yang luar biasa menyentuh lidahnya, hangat, menenangkan, dan wangi.

"Ini sangat enak!" seru Airlea, tanpa sengaja.

Damiane menatap istrinya datar. "Kau bertingkah seakan tidak pernah meminumnya, padahal itu umum di daerahmu."

Kata tajam Damiane langsung membungkam Airlea. Gadis itu tersenyum kaku. Kemudian menyeruput teh itu sekali lagi sebagai pengalihan.

'Aku memang tidak pernah meminumnya sekalipun,' lirih Airlea dalam hati.

Hidangan pendamping, itu adalah makanan manis. Kue yang cantik. Airlea takut untuk memakannya karena bentuk yang begitu sempurna. Sejak tadi dia terus menatap makanan yang terlihat lezat itu. Lalu dia memberanikan diri mengambil salah satu makanan. Kue cokelat yang terlihat menggiurkan.

"Wah!" Sekali lagi si cantik berkulit pucat di depan Damiane ini berseru kagum. Maniknya berbinar.

"Apa rasanya seenak itu?" Damiane mencondongkan tubuh tegapnya ke arah Airlea dengan wajah penasaran. Seketika perempuan itu kaget.

"I-iya! Cobalah!"

'Astaga!' batin Airlea begitu ia sadar sudah memasukkan sesendok kue ke mulut Damiane secara paksa. 'Oke, aku rasa sekarang aku mempercepat kematianku!'

Setelah menyuapi Damiane secara paksa untuk menghindari kecanggungan Airlea langsung duduk kaku di tempatnya, meletakkan sendok kecil di piringnya dan tertawa canggung. Sedang Damiane mengusap krim yang berserakan di area mulut karena Airlea yang menyuapinya dengan mendadak tadi.

"Enak."

Airlea langsung menatap lurus. Ia melihat Damiane yang langsung mengambil sendok milik Airlea dan memakan kue cokelat dari piring Airlea dengan wajah datar yang sesekali mengangguk keenakan. Pelayan dan para ksatria yang ada di sekitar mereka langsung terkejut. Secara, Damiane terkenal tidak menyukai makanan manis.

Melihat itu Airlea tersenyum. Dia menopang dagu menatap suaminya yang makan lahap. Menikmati wajah tampan yang sedang terlena karena makanan manis.

Netra yang semula terpatri menatap pemuda di hadapan seketika beralih saat netra Airlea menangkap sosok berpakaian serba hitam di balik rumah kaca. Sosok yang berada di dahan pohon dan sedang mengarahkan anak panah ke arah seseorang.

Airlea mengikuti arah anak panah itu dan seketika terbelalak kala sadar anak panah itu mengarah ke Damiane.

"Damiane!" teriak Airlea yang langsung melompat menubruk tubuh Damiane. Kue berjatuhan. Mengotori gaun Airlea dan pakaian Damiane. Tetapi bukan itu yang menjadi kepanikan sekarang. Hujan anak panah terjadi. Ksatria yang ada di sekitar mereka langsung memasang formasi perlindungan dan menghalau anak panah yang datang.

Memang benar keputusan meletakkan ksatria untuk berjaga saat Damiane bersama Airlea.

Akan tetapi, anak panah yang terus datang membuat kewalahan semua orang. Sayangnya Damiane tidak membawa pedang kala itu. Dia yang sedang berlindung terus berdecak kesal. Tak sadar sebuah anak panah lolos dan mengarah tepat ke kepala Damiane, tampaknya anak panah itu lolos dari pengawasan ksatria yang sibuk menghalau serangan sejak tadi. Posisi Damiane dan Airlea masih menunduk, dengan Damiane yang melindungi Airlea. Airlea yang melihat anak panah itu datang reflek menghalau benda itu dengan tangannya.

"Argh!" teriak Airlea begitu anak panah mengenai tangannya.

Anak panah itu menancap menembus telapak tangan Airlea. Gadis itu meringis saat melihat ukuran anak panah yang hampir melubangi seluruh tangannya. Damiane yang mendengar seketika memasang wajah serius. Dia melihat ke arah Airlea yang sudah terluka. Dia semakin melindungi dan fokus.

Beberapa ksatria akhirnya datang, bantuan itu langsung mengejar orang-orang yang melakukan penyerangan saat para pasukan dengan pakaian serba hitam itu lari karena merasa sudah berhasil dengan misinya. Airlea melindungi kepala Damiane dengan tangannya, sementara yang dilihat oleh pasukan itu, panah mereka sudah mengenai sasaran.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Damiane dengan suara berat yang terdengar agak panik dia memegangi tangan Airlea yang terluka. Airlea menarik kembali tangannya dari sentuhan Damiane

"Refleks," cicit Airlea sembari memegangi tangannya yang terluka.

"Kalau tidak dihalau, itu akan mengenai kepala Anda dan sekarang mungkin Anda sudah tiada karena serangan itu," celetuk Airlea yang seolah lukanya bukan apa-apa.

Damiane melotot tak senang. Tidak habis pikir di saat seperti ini perempuan yang tengah terluka di depannya masih mengutarakan kalimat seperti itu.

Melihat wajah Damiane yang melotot membuat nyali Airlea ciut. Gadis itu langsung berdiri dengan gerakan canggung. Damiane juga ikut berdiri dan masih menatapnya.

"Aku, aku akan pergi!" Airlea segera mendorong tubuh Damian agar menjauh. Menghindari kecanggungan yang membuatnya sesak. Perempuan itu mulai berjalan pergi sembari memegangi tangannya.

"Tapi, tanganmu butuh pengobatan, Putri," ucap Damiane sembari berusaha mengejar langkah Airlea.

Airlea tersenyum dia berbalik saat itu juga. Menatap anak panah yang menancap, memasang wajah tersenyum yang menahan sakit. "Ini bukan masalah!" Airlea berseru seraya mencabut anak panah dari tangannya, seperti mencabut wortel dari tanah. Mudah dan cepat. Tetapi, kemudian darah langsung mengucur deras seperti air mancur. Airlea heboh menutupi lukanya sembari sedikit tertawa. "Hehe, ternyata ini masalah," ucapnya.

"Dasar bodoh!" seru Damiane yang langsung mengeluarkan saputangannya untuk menutupi luka Airlea. Meskipun itu tidak terlalu membantu. Tetapi setidaknya mengurangi akibat dari kecerobohan Airlea.

"Apakah dokternya masih lama?!" Damiane berteriak sembari menggendong tubuh Airlea. Pemuda itu mengedarkan pandangannya melihat semua bawahan yang masih belum memanggil bantuan medis.

"Tuan Du-duke, turunkan aku. Yang terluka hanya tang—"

Kalimat itu terhenti begitu Damiane menatap tajam, menyorot dari tatap mata seolah berkata. 'Diam kau!'

Seketika Airlea menunduk takut. Jelas pemuda ini sedang marah atau panik? Memang benar masalah luka Airlea bukan hal kecil. Sehingga saat menunggu bantuan medis datang. Damiane dengan langkah cepat berlari memasuki mansion.

Anehnya, Airlea yang semula merasa biasa saja merasa pandangannya memudar dan mulai menggelap.

"Hei! Sadarlah!" seru Damiane.

Suara itu tidak membuat Airlea bisa membuka dan mengembalikan pandangannya yang sudah buram. Airlea akhirnya kehilangan kesadaran.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   26. Tubuh Rapuh

    Napas Airlea memburu. Berusaha berjalan dengan benar. Tubuh yang terasa sakit dan pegal dia abaikan. Langkah yang tak lihai lagi mulai menapaki tanah perlahan. Berusaha mendapatkan bantuan. Dari kejauhan dia melihat segerombolan orang berjalan ke arahnya. Rasa senang mencuat kala melihat gerombolan orang berkuda itu. Dia mulai berjalan mendekat. Tetapi, fokusnya tertuju pada anak panah dan pedang yang mulai ditujukan ke arah Airlea. Tatap bengis tanpa ampun membuat Airlea sadar jika mereka datang bulan untuk membantu tetapi membunuh.Segera dia berbalik. Berlari secepat mungkin. Mengabaikan semua rasa sakit. Dia harus hidup. Dia harus bertahan. Dia tidak mau cepat mati. Dia masih ingin menikmati kehidupan. Lelah tak terasa, sebab pikiran Airlea hanya kabur.Tetapi, sekeras apa dia mencoba, pasukan itu tampaknya lebih cepat. Dia mulai kehilangan kekuatan. Namun, tampaknya takdir menyayanginya. Seseorang meraih pinggang Airlea dan membawanya ke atas kuda yang sama tepat saat anak pana

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   25. Takdir

    Damiane berdiri di sisi sang istri yang sudah memerah wajahnya karena malu. Seulas senyuman terlihat di wajah tampannya."Aku tidak menyangka jika kau bisa memuji dengan sangat manis," tutur Damiane yang membuat Airlea langsung bergerak bersembunyi di sisi Raicia."Kenapa kau tidak bilang kalau Tuan Duke ada di sini, Cia," bisik Airlea.Raicia hanya tertawa kecil sembari mengusap rambut Airlea. Dia melirik sang kakak yang terus melihat ke arah Airlea. Ada perasaan hangat di hati Raicia melihat perubahan sang kakak. Tetapi, seketika dia tersadar dan alisnya berkerut. Sorot mata gadis itu berubah sedih."Kepalsuan itu terlalu nyata, Damiane," ucap Raicia.Damiane yang menatapi Airlea seketika tertegun. Dia menoleh ke arah Raicia yang sudah menatap datar. Tangan Raicia bergerak seolah menyerahkan Airlea kepada Damiane. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan mereka berdua.Raicia buru-buru pergi. Air matanya tanpa sengaja jatuh. Sakit di hati menjalar dengan cepat. Ada rasa sakit akiba

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   25. Takdir

    Damiane berdiri di sisi sang istri yang sudah memerah wajahnya karena malu. Seulas senyuman terlihat di wajah tampannya."Aku tidak menyangka jika kau bisa memuji dengan sangat manis," tutur Damiane yang membuat Airlea langsung bergerak bersembunyi di sisi Raicia."Kenapa kau tidak bilang kalau Tuan Duke ada di sini, Cia," bisik Airlea.Raicia hanya tertawa kecil sembari mengusap rambut Airlea. Dia melirik sang kakak yang terus melihat ke arah Airlea. Ada perasaan hangat di hati Raicia melihat perubahan sang kakak. Tetapi, seketika dia tersadar dan alisnya berkerut. Sorot mata gadis itu berubah sedih."Kepalsuan itu terlalu nyata, Damiane," ucap Raicia.Damiane yang menatapi Airlea seketika tertegun. Dia menoleh ke arah Raicia yang sudah menatap datar. Tangan Raicia bergerak seolah menyerahkan Airlea kepada Damiane. Setelah itu barulah ia pergi meninggalkan mereka berdua.Raicia buru-buru pergi. Air matanya tanpa sengaja jatuh. Sakit di hati menjalar dengan cepat. Ada rasa sakit akiba

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   24. Suami Sempurna

    Sebelumnya Airlea berpikir jika dia tiba di kediaman Alverd setelah pelarian itu, dia akan dibenci semua orang. Setiap kemungkinan buruk susah menghantui Airlea sebelum dia menginjakkan kaki lagi di kediaman Alverd. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Semua orang menyambut Airlea dengan sangat. Bersorai dan tersenyum hangat seperti biasanya. Raicia yang melihat Airlea sudah tiba langsung memeluknya erat. Dia menangis karena rindu dan khawatir."Kau berada di luar sana untuk waktu yang cukup lama, apakah racun itu tidak menyiksamu? Dia tidak kambuh, 'kan?" kata Raicia diiringi pertanyaan yang membuat hati Airlea hangat.Perempuan berambut putih bagai salju di hadapan Raicia mengusap rambutnya. Dia tampak tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja, Raicia," ucapnya.Raicia menghela napas. Matanya memancarkan rasa syukur. Dia menatap sang kakak nyalang. "Jangan sakiti istrimu lagi," ucapnya sembari memukul Damiane.Damiane tersenyum sembari mengusap lengan yang dipukul sang adik. "Tidak akan

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   23. Pulang

    Sebuah surat misterius datang ke kediaman Alverd. Frass dengan cepat melihat isi dari surat tersebut. Begitu dia membaca isi kepala surat. Pria itu seketika melipat kembali kertas dan memasukkannya ke dalam amplop. Berlari dengan cepat menuju ruang kerja Damiane. "Tuan Duke!" seru Frass begitu dia memasuki ruangan Damiane. Pria bertubuh tegap yang tengah berbincang dengan Lionel menoleh dengan santai. "Ada apa? Sebenernya kabar seperti apa yang kau terima sampai berlari seperti itu, Frass?" tanya Damiane sembari menandatangani dokumen yang dibawa Lionel. Frass menyerahkan amplop misterius itu. "Ada sebuah surat yang tampaknya dari Nyonya," jelas Frass. Pria itu seketika menghentikan gerak penanya. Dia menoleh ke arah Frass yang mengangguk sembari tersenyum senang. Damiane langsung mengambil surat itu. Meletakkan penanya. Lionel yang ada di sana juga turut oenasana. Tetapi, di satu sisi hati Damiane juga sedikit resah dengan semua kemungkinan yang ada. Bisa saja Airlea kekeu

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   22. Alasan untuk Bertahan

    Jendela rumah sederhana di tengah desa pinggir kota itu terbuka. Menampilkan sosok perempuan dengan rambut pirang yang cantik. Anak-anak yang bermain di halaman rumahnya langsung menyapa perempuan cantik itu. Perempuan cantik yang dikenal sebagai tetangga baru yang baik hati. Dialah Airlea. Untuk menjalani hidup nyaman dia menyamar sebagai orang lain. Mewarnai rambutnya seperti dia yang dulu sebelum diracuni oleh racun es. Airlea keluar dari rumahnya. Menyapa anak-anak dan bermain dengan mereka di halaman kecil rumahnya. "Lea," panggil seseorang. Perempuan itu tersentak. Dia langsung menoleh ke sumber suara. Selama di desa dia mengaku sebagai gadis bernama Aira. Jantung Airlea bergemuruh begitu melihat sosok yang memanggilnya. Dia adalah kakak laki-laki ketiga. Cail De Farn. Wajah pemuda itu tampak lega saat melihat sosok Airlea di hadapannya. Pemuda itu langsung memeluk sang adik. "Wah, apakah kakak tampan ini kekasih Kak Aira?" tanya salah satu anak kecil. "Bukan

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   10. Sisi Berbeda

    Raicia langsung menyambut Airlea yang baru saja tiba di mansion bersama George. "Bagaimana di sana? Baik-baik saja, 'kan?" tanya Raicia yang terus mengikuti langkah kakak iparnya itu. "Iya." "Tidak ada yang sakit? Kau tidak bertemu orang lain selain putri bukan?" tanya Raicia lagi. Gadis i

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   9. Pertemanan dengan Pemeran utama Wanita

    Kemarin tidak ada yang terjadi setelahnya. Airlea dan Damiane hanya tidur bersama, itu saja. Seperti biasanya Airlea yang tidur dengan Damiane. Pagi hari saat keduanya terbangun, mereka dikejutkan kabar jika Beatrice sudah kembali ke istana dini hari tadi. Tanpa pamit secara langsung, gadis itu meni

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   6. Racun es

    Alis Airlea menungkik tajam. Dahinya berkerut bersamaan dengan rasa sakit yang mulai merambat menyebar ke seluruh tubuh. Air matanya luruh karena sakit yang dirasakan. Sial sekali hari ini karena racun es itu kambuh saat ini. Damiane yang bangun sedikit terlambat sangat terkejut merasakan tangan ya

  • Tuan Duke, Tolong Jangan Membenciku   5. Rencana Awal yang Cukup Gila

    Seorang perempuan dengan gaun tidur berwarna kuning pucat berjalan melintasi lorong gelap sembari memeluk bantal putih miliknya. Berjalan dengan sungguh-sungguh menuju suatu tempat dengan tekat kuat. Tetapi, sesaat kemudian, gadis dengan rambut putih itu menghentikan langkahnya. Memejamkan mata dan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status