LOGINCuaca keesokan hari begitu cerah, matahari bersinar terang, tetapi suasana di rumah kaca siang itu sangat dingin terasa. Belum ada perbincangan sejak tadi. Membuat Airlea terus menenggak saliva karena canggung.
Airlea yakin tujuan Damiane membawanya untuk minum teh bersama itu karena untuk menyelidiki dirinya, karena hal ini tak melenceng sedikitpun dari novel. Semua kisah benar-benar sama. Tanpa ada sesuatu yang hilang sedikitpun.
"Minumlah," suruh Damiane.
"Ah, iya." Airlea meminum teh itu. Matanya seketika berbinar ketika rasa yang luar biasa menyentuh lidahnya, hangat, menenangkan, dan wangi.
"Ini sangat enak!" seru Airlea, tanpa sengaja.
Damiane menatap istrinya datar. "Kau bertingkah seakan tidak pernah meminumnya, padahal itu umum di daerahmu."
Kata tajam Damiane langsung membungkam Airlea. Gadis itu tersenyum kaku. Kemudian menyeruput teh itu sekali lagi sebagai pengalihan.
'Aku memang tidak pernah meminumnya sekalipun,' lirih Airlea dalam hati.
Hidangan pendamping, itu adalah makanan manis. Kue yang cantik. Airlea takut untuk memakannya karena bentuk yang begitu sempurna. Sejak tadi dia terus menatap makanan yang terlihat lezat itu.
Dia mengambil salah satu makanan. Kue cokelat yang terlihat menggiurkan.
"Wah!" Sekali lagi si cantik berkulit pucat di depan Damiane ini berseru kagum. Maniknya berbinar kagum.
"Apa rasanya seenak itu?" Damiane mencondongkan tubuh tegapnya ke arah Airlea dengan wajah penasaran. Seketika perempuan itu kaget.
"I-iya! Cobalah!"
'Aigo!' batin Airlea begitu ia sadar sudah memasukkan sesendok kue ke mulut Damiane yang seram secara paksa. 'Oke, aku rasa sekarang aku mempercepat kematianku!'
Setelah menyuapi Damiane secara paksa untuk menghindari kecanggungan, Airlea langsung duduk kaku di tempatnya. Sedang Damiane mengusap krim yang berserakan di area mulut karena Airlea yang menyuapinya dengan mendadak tadi.
"Enak."
Airlea mendongak. Ia melihat Damiane yang langsung mengambil sendok milik Airlea dan memakan kue cokelat dari piring Airlea dengan wajah datar yang sesekali mengangguk keenakan. Pelayan dan para ksatria yang ada di sekitar mereka langsung terkejut. Secara, Damiane terkenal tidak menyukai makanan manis.
Melihat itu Airlea tersenyum. Dia menopang dagu menatap suaminya yang makan lahap. Menikmati wajah tampan yang sedang terlena karena makanan manis.
Netra yang semula terpatri menatap pemuda di hadapan seketika beralih saat netra Airlea menangkap sosok berpakaian serba hitam di balik rumah kaca. Sosok yang berada di dahan pohon dan sedang mengarahkan anak panah ke arah seseorang.
Airlea mengikuti arah anak panah itu dan seketika terbelalak kala sadar anak panah itu mengarah ke Damiane.
"Damiane!" teriak Airlea yang langsung melompat menubruk tubuh Damiane. Kue berjatuhan. Mengotori gaun dan pakaian Damiane. Tetapi bukan itu yang menjadi kepanikan sekarang. Hujan anak panah terjadi. Ksatria yang ada di sekitar mereka langsung memasang formasi perlindungan dan menghalau anak panah yang datang.
Memang benar keputusan meletakkan ksatria untuk berjaga saat Damiane bersama Airlea.
Akan tetapi, anak panah yang terus datang membuat kewalahan semua orang. Sayangnya Damiane tidak menbawa pedang kala itu. Dia yang sedang berlindung terus berdecak kesal. Tak sadar sebuah anak panah lolos dan mengarah tepat ke kepala Damiane, tampaknya anak panah itu lolos dari pengawasan ksatria yang sibuk menghalau serangan sejak tadi. Posisi Damiane dan Airlea masih menunduk, dengan Damiane yang melindungi Airlea. Airlea yang melihat anak panah itu datang reflek menghalau benda itu dengan tangannya.
"Argh!" teriak Airlea begitu anak panah mengenai tangannya.
Anak panah itu menancap menembus telapak tangan Airlea. Gadis itu meringis saat melihat ukuran anak panah yang hampir melubangi seluruh tangannya. Damiane yang mendengar seketika memasang wajah serius.
Beberapa ksatria datang, bantuan itu langsung mengejar orang-orang yang melakukan penyerangan saat para pasukan bayangan lari karena merasa sudah berhasil. Airlea melindungi kepala Damiane dengan tangannya, sementara yang dilihat oleh pasukan bayangan, panah itu sudah mengenai sasaran.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Damiane dengan suara berat yang terdengar agak panik dia memegangi tangan Airlea yang terluka. Airlea menarik kembali tangannya dari sentuhan Damiane
"Refleks," cicit Airlea.
"Kalau tidak dihalau, itu akan mengenai kepala Anda dan sekarang mungkin Anda sudah tiada karena serangan itu," celetuk Airlea yang seolah lukanya bukan apa-apa.
Damiane melotot tak senang. Tidak habis pikir di saat seperti ini perempuan yang tengah terluka masih mengutarakan kalimat seperti itu.
"Aku, aku akan pergi!" Airlea segera mendorong tubuh Damian agar menjauh. Menghindari kecanggungan yang membuatnya sesak. Perempuan itu mulai berjalan pergi sembari memegangi tangannya.
"Tapi, tanganmu butuh pengobatan, Putri," ucap Damiane sembari berusaha mengejar langkah Airlea.
Airlea tersenyum dia berbalik saat itu juga. Menatap anak panah yang menancap, memasang wajah tersenyum yang menahan sakit. "Ini bukan masalah!" Airlea berseru seraya mencabut anak panah dari tangannya, seperti mencabut wortel dari tanah. Mudah dan cepat. Tetapi, kemudian darah langsung mengucur deras seperti air mancur. Airlea heboh menutupi lukanya.
"Dasar bodoh!" maki Damiane yang langsung mengeluarkan saputangannya untuk menutupi luka Airlea. Meskipun itu tidak terlalu membantu. Tetapi setidaknya mengurangi akibat dari kecerobohan Airlea.
"Apakah dokternya masih lama?!" Damiane berteriak sembari menggendong tubuh Airlea.
"Du-duke, turunkan aku. Yang terluka hanya tang—"
Kalimat itu terhenti begitu Damiane menatap tajam, menyorot dari tatap mata seolah berkata. 'Diam kau!'
Seketika Airlea menunduk takut.
Airlea tidak menyangka jika makanan yang sederhana itu akan menjadi sebuah keajaiban. Setiap hari tanpa bosan Damiane meminta makanan yang dimasak oleh Airlea dan pemuda itu selalu memakan masakan sang istri dengan lahap seolah masakan sederhana itu adalah makanan yang begitu istimewa melebihi masakan koki kediaman Alverd. Kemudian ada hal yang menjadi perkembangan besar menurut Airlea, yaitu adalah Damiane yang setiap kali makan harus dan wajib disuapi oleh Airlea. Aneh? Tentu saja. Hal baru ini tampak tidak serasi dengan badan tegap dan wajah galak Damiane. Hal baru yang tak pernah terbayangkan siapapun ini sempat menghebohkan seluruh kediaman bahkan wilayah Alverd. Tetapi, setelah berlalu cukup lama. Itu menjadi hal biasa karena mereka semua berkata. "Sang penguasa kaku yang dingin telah menemukan matahari hangat yang telah melelehkan dingin dan memberinya hangat." Akan tetapi hari ini Airlea tidak memasak karena sedang ingin bersantai. Toh, juga meskipun
Raicia langsung menyambut Airlea yang baru saja tiba di mansion bersama George. "Bagaimana di sana? Baik-baik saja, 'kan?" tanya Raicia yang terus mengikuti langkah kakak iparnya itu."Iya.""Tidak ada yang sakit? Kau tidak bertemu orang lain selain putri bukan?" tanya Raicia lagi. Gadis itu terus mengekori Airlea. Sedang gadis berambut putih pucat itu hanya fokus ke depan. Tanpa ekspresi. Entah apa yang terjadi di kediaman sang putri tadi siang."Iya." Lagi-lagi jawaban singkat Airlea.Raicia khawatir. Mungkin itu hal yang wajar, bukan hanya karena pertemuan Airlea dengan sang putri yang begitu mendadak dan tanpa alasan pasti tapi karena ini bukan negara Airlea dan perempuan itu adalah putri negara musuh. Seberapa banyak tatapan sinis yang Airlea terima sepanjang jalan? Apakah dia memang baik-baik saja selama tinggal berada di sana? Atau bahkan apakah gadis bertubuh kurus kecil itu tidak baik-baik saja saat berada di sini
Kemarin tidak ada yang terjadi setelahnya. Airlea dan Damiane hanya tidur bersama, itu saja. Seperti biasanya Airlea yang tidur dengan Damiane. Pagi hari saat keduanya terbangun, mereka dikejutkan kabar jika Beatrice sudah kembali ke istana dini hari tadi. Tanpa pamit secara langsung, gadis itu meninggalkan sepucuk surat untuk Damiane. Surat yang berisikan ucapan selamat tinggal dan alasan kembalinya dia ke istana secepat itu.Lalu, Airlea yang membuatnya tidak menyangka adalah sang putri menitipkan surat juga untuknya. Sebuah undangan untuk minum teh tiga hari lagi di ibukota. Jujur saja, selama menikah dengan Damiane Airlea jarang keluar. Dia ini terhitung sebagai seorang tahanan mewah. Lagipun Airlea selalu fokus pada hubungannya dan Damiane."Surat? Kau mendapatkan undangan minum teh dari Yang Mulia Putri?" Raicia yang mendengar berita itu terkejut. Lalu dia tampak berpikir sebentar dan wajahnya kembali datar. "Dia mungkin ingin lebih dekat denganmu, Lea. Datan
Damiane menatap sosok Beatrice yang diam saja di hadapannya. Sungguh, Damiane sendiri tidak mengerti kenapa dia masih di sini. Kakinya sudah hendak bergerak meninggalkan Beatrice untuk mendatangi istrinya yang saat ini berjalan beriringan dengan sang adik. Jarak mereka kian jauh. Namun, niatnya tertunda. Langkah kaki Damiane terhenti saat ucapan Beatrice berikutnya keluar."Ayah," katanya yang membuat Damiane langsung terkesiap. "Ayahku ingin aku bertanya padamu kapan kau akan meresmikan pernikahan ini," ujar Beatrice lagi. Seketika Damiane tertegun, menatap punggung Airlea yang menjauh. Perempuan itu kecil dan saat ini tengah sakit. "Saat Airlea sudah sehat. Aku akan meresmikan hubungan kami," jawab Damiane tanpa ragu. Hal itu membuat Beatrice yang ada di hadapan Damiane diam-diam meremas tangannya. Hati Beatrice agak sesak, tetapi dia tersenyum menatap Damiane. Berusaha menutupi semua yang dia rasakan."Kau ingin menyusul istrimu bukan?"
Suasana tegang dan canggung tampak jelas menyelimuti tiga gadis yang tengah duduk sembari sesekali menyeruput teh di cangkir indah yang mereka pegang. Semula ini adalah acara minum teh Airlea dan Raicia di taman kesukaan mendiang Duchess, tetapi mendadak Beatrice datang dan bergabung dengan mereka.Tidak ada alasan untuk menolak kedatangan sang putri. Jadi, pada akhirnya gadis itu bergabung dengan Raicia dan Airlea."Raicia, tadi aku bertanding dengan kakakmu. Tebak siapa yang menang? Haha!" Suara Beatrice mengalihkan pandangan Airlea yang semula menunduk menatap gelasnya. Dia menoleh ke arah Beatrice yang cerita dan Raicia yang selalu memiliki sedikit ekspresi.Jawabannya jelas Beatrice. Ini dialog yang sama di bab ketiga. Semua masih mirip, bagaimana bisa? Apakah memang Airlea tidak bisa merubah semua kesedihan di kehidupan ini? Rasanya sedih setelah perubahan itu, beberapa hal tetap berjalan sesuai alur.'sialan,' maki Airlea dalam hati.
Airlea membuka matanya. Dia menatap sekitar yang asing. Ini bukan ruang kamarnya. Pertanyaan tentang di mana dia sekarang muncul. Lantas, pandangan netra Magenta Airlea tertuju pada Damiane yang duduk di sisi kanan. Sembari memegang buku. Tatapan Damiane tak tertuju pada buku yang terbuka. Melainkan menatap Airlea yang baru terbangunTanpa kata Damiane beranjak mendekati Airlea dan meletakkan punggung tangannya di atas dahi Airlea yang kebingungan."Kau sedingin salju." Hanya kalimat itu yang terdengar. Kemudian dia menyerahkan satu nampan berisi obat. "Biasanya mana yang kau minum kalau kambuh?" tanya pria bertubuh tegap itu lagi. Airlea menatap obat-obat yang terlihat asing di matanya. Tidak, sekalipun Airlea tidak pernah mengonsumsi obat pereda nyeri kala racun itu kambuh. Jadi, Airlea tidak tahu yang mana. Sejauh ini dia hanya akan diam di sudut kamar. Dengan berlapis-lapis kain untuk menghangatkan tubuh dari efek racun itu. "Aku lupa." Airl







