Acha menghela napas sedikit kasar. Sungguh, ia tidak ingin berurusan dengan Rafael lagi.Sebab itu, ia kembali melangkah mantap, pura-pura tidak menyadari keberadaan pria itu. Saat ini, tujuannya hanya satu, ingin segera kembali ke tempatnya.Pokoknya, kalau bisa melewati pria itu tanpa satu kata pun, akan lebih baik.Hanya saja, baru beberapa langkah, tumbuhnya langsung tersentak saat tangannya tiba-tiba dicekal.Acha sontak berhenti.“Heh, lepas!”Ia menarik pergelangan tangannya dengan kasar sampai genggaman Rafael terlepas.“Kamu apa-apaan!” bentaknya sambil menatap mantan kekasihnya itu dengan tajam.Alih-alih merasa bersalah, Rafael hanya tersenyum santai, seolah yang dilakukannya itu tidak hampir membuat orang merasa ingin menampolnya.“Di mana-mana kita selalu bertemu,” ujar Rafael. Ekspresi nampak sangat menyebalkan di mata Acha.“Terus?”“Kamu nggak merasa ini bukan kebetulan?”Acha mengernyit. Matanya menatap malas pria itu. “Apa maksudmu?”Pria berjas hitam itu menyandarka
Mehr lesen