“Bercandamu nggak lucu, Evander!” seru Elvano, nada suaranya terdengar sinis.“Kalau begitu, Mbak Acha saja yang menilai.” Evander kembali menoleh kepada Acha dengan santai. “Atau Mas takut kalah saing, ya?”Elvano langsung melirik tajam.Sementara itu, Evander malah tertawa kecil, seolah tatapan kakaknya itu justru semakin menghiburnya.Acha menghela napas pelan melihat dua kakak beradik itu, tanpa tahu harus berbuat apa menanggapinya.“Ah, sudah-sudah.” Jonathan akhirnya menengahi. “Kalian ini kalau ketemu pasti bertengkar terus.”“Bukan saya yang mulai, Pi,” sahut Evander cepat.“Mulut kamu itu, lho,” balas Elvano.Evander mengangkat kedua tangan. “Saya akan diam.”“Bagus.”“Tapi Mbak Acha belum jawab.”“Evander!”Tawa Evelyn langsung pecah. Widya ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.Acha hanya bisa tersenyum. Namun, ketika tanpa sengaja melirik Elvano, pria itu masih menatap Evander dengan wajah yang jelas-jelas tidak senang.Ia pun buru-buru menundukkan wajah. Entah k
Read more