Pertanyaan Esther membuat Acha langsung mendelik tajam ke arah gadis itu.“Heh! Sembarangan,” ketusnya. “Itu Pak Rio. Dari Divisi Operasional Pabrik di Jaktim.”“Oh ….” Esther terkekeh kecil sambil menggaruk pipinya. “Kirain pacar Kakak.”“Ngaco.”“Soalnya aku udah lama magang di sini, belum pernah lihat Kakak didatangi cowok begini,” ujar Esther lagi setengah berbisik.Acha hanya menggeleng pelan. Sudut bibirnya ikut terangkat geli melihat tingkah Esther.“Itu mah privasi.”Belum sempat Esther menanggapi, Rio sudah tiba di depan meja mereka.“Mbak Acha, maaf ganggu waktu makan.”“Tidak apa-apa, Pak,” balas Acha ramah.“Boleh bicara sebentar?”“Oh, tentu.”Rio menarik kursi kosong di dekat meja mereka, lalu duduk di hadapan Eca. “Begini, Mbak.” Ia segera membuka map tipis yang dibawanya. “Saya mau memastikan lagi rundown kunjungan Pak Elvano ke pabrik di Jaktim minggu depan. Ada sedikit revisi dari tim kami. Takutnya jadwal beliau berubah sebelum kami finalisasi persiapan.”“Oh iya,
Mehr lesen