Alih-alih merasa bersalah, Cinthia justru melipat kedua tangannya di depan dada. “Biar kamu sadar, Reina.”“Sadar apanya?” balas Reina tidak terima. Bibirnya mengerucut masam. Tangannya telah mengusap kepalanya yang berdenyut karena pukulan tersebut.Cinthia menatapnya tak percaya. “Kamu ini tidak bodoh, kan, Na? Dia itu Hugo Veldric! Kamu masih perlu kerja untuk apa, hah?”Gadis itu membuka kacamata hitamnya, lalu memijat pelipisnya. Napasnya mulai memburu, menahan kesal. “Kamu tahu tidak, ada berapa banyak wanita yang ingin ada di posisimu? Tanpa perlu bersusah payah, kamu tinggal menikmati semua kemewahannya, bukan?”Reina membalas tatapannya dengan tajam. “Dan, kamu pikir aku suka berada di posisi seperti ini?” balasnya dengan suara yang terdengar dingin dan diselimuti kekecewaan.Melalui pesan teks yang ia kirimkan semalam, Reina sebenarnya sudah menjelaskan secara singkat alasan di balik keputusannya menerima tawaran Hugo. Ia pikir itu sudah cukup untuk membuat Cinthia memahami p
Read more