“Kamu boleh panggil aku Reina saja, Dok─ah, maksudku … Shawn.”Reina meralat dengan cepat. Ia masih belum terbiasa menyebut nama pria itu.Shawn justru tersenyum tipis melihat pipi Reina yang bersemu merah. “Baiklah, Reina. Senang bisa mengenalmu kembali,” balasnya dengan ramah. Reina mengangguk ringan. “Aku juga.”Setelah beberapa saat, ruangan kembali jatuh dalam kesunyian.Dahi Reina sempat berkerut saat melihat tangannya yang masih berada dalam genggaman Shawn, seakan pria itu tidak berniat melepaskannya.Begitu menyadarinya, Shawn segera menarik tangannya. Ia berdeham pelan, lalu dengan cepat menetralkan ekspresinya, kembali pada sikap profesionalnya.“Demi merayakan pertemuan kita, bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama?” ajaknya. “Makan malam?” Reina mengerjap kaget dengan ajakan itu. Melihat wajah kagetnya, Shawn terkekeh geli. “Kamu takut aku memintamu traktir?” ledeknya. “Tidak, kok,” tukas Reina, lalu dengan penuh kesungguhan ia berkata, “Aku memang berpikir
Read more