Zavian dan Evan melangkah keluar dari kamar dengan raut wajah yang sama-sama kaku. Evan bertumpu pada kruknya, berjalan perlahan dengan akting kaki yang masih menyeret, sementara Zavian berjalan di sampingnya dengan wibawa yang dingin.Lavina, yang masih berdiri di samping ranjang Alice, mendengkus keras saat melihat pintu kamar tertutup di belakang mereka."Lihat itu, Alice! Papa dan anak sama saja. Bukannya tinggal di sini menunggumu, mereka malah pergi begitu saja untuk menghindari ocehan Nenek," gerutu Lavina sambil merapikan letak selimut Alice.Alice, yang tubuhnya masih terasa seperti remuk, mencoba memberikan senyum lemah. "Nenek, tidak apa-apa. Mungkin ada urusan kantor yang mendesak. Aku... aku baik-baik saja.""Kau ini terlalu baik, Alice. Harusnya kau tuntut dia agar lebih perhatian," sahut Lavina lagi.Tak lama kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu. Lily masuk diikuti oleh Dokter Pram, pria paruh baya dengan kacamata yang selalu t
Last Updated : 2026-02-07 Read more