Alice menarik napas panjang saat ia mencoba berdiri dari tempat tidur. Rasa nyeri di selangkangannya masih berdenyut, namun ia tidak ingin terlihat lemah di depan Evan. Ia mengambil piyama sutra barunya dari lemari dan memakainya perlahan. Evan, yang sudah mengenakan celana kain tanpa atasan, berdiri di dekat jendela, memerhatikannya dengan tatapan yang sangat protektif."Kau yakin bisa berjalan?" tanya Evan, suaranya masih rendah dan berat.Alice menoleh, memaksakan sebuah senyum tipis yang tulus. "Hanya sedikit pegal. Jangan khawatir, Evan. Aku baik-baik saja."Evan melangkah mendekat, mengecup dahi Alice cukup lama. "Aku minta maaf lagi. Berkali-kali pun rasanya tidak cukup untuk menebus rasa sakitmu semalam.""Sudah, Evan. Kau sudah menebusnya pagi ini," bisik Alice lembut sambil merapikan kerah baju piyama yang ia kenakan."Aku harus turun. Valen sudah menungguku di ruang tamu. Sepertinya ada perkembangan darurat soal situs itu," ujar Evan. Ia
Last Updated : 2026-02-16 Read more