Lampu gantung di kamar bayi berpendar redup, memberikan suasana tenang yang kontras dengan ketegangan di wajah Evan. Jam tangan emas mungil itu berkilau di telapak tangannya. Benda itu terasa berat, bukan hanya karena logamnya, tapi karena beban sejarah yang dibawanya.Evan memutar jam itu, jempolnya mengusap ukiran halus di bagian belakang. "Ini buatan tangan, Alice. Lihat detailnya. Hanya ada satu pengrajin di dunia yang bisa membuat mesin sekecil ini bekerja secara mekanis sempurna."Alice mendekat, tangannya masih sedikit gemetar. Ia menyentuh permukaan kaca jam tersebut. "Kau bilang ini dipesan sepuluh tahun lalu? Itu berarti... sebelum tragedi bendungan itu terjadi?""Tepat," jawab Evan pendek. Ia menatap Lily yang masih berdiri mematung di dekat pintu. "Lily, kau yakin tidak melihat siapa pun? Pikirkan baik-baik. Pelayan, petugas katering, atau siapa pun yang lewat?""Sumpah, Tuan Muda," suara Lily bergetar. "Saya hanya ke kamar mandi bayi selama d
Read more