"Cerai," beo Mas Azka.Mas Azka tak menjawab pertanyaanku. Dia tampak syok dengan permintaanku."Iya, ceraikan aku, Mas. Aku juga ingin bahagia," ucapku sambil berdiri, mencoba meninggalkan ruang tamu ini."Nadia, tunggu," ucapnya sambil memegang kakiku.Mau apa sih Mas Azka ini? Apa dia tak cukup membuatku sakit hati seperti ini?"Aku gak mau cerai, Nad. Maafin aku. Aku khilaf," ucapnya sambil berlutut di hadapanku.Aku terperanjat kaget. Apa-apaan ini?Aku mundur satu langkah refleks saat melihat Mas Azka berlutut di hadapanku. Tangan Mas Azka masih mencengkeram kakiku, seolah takut aku benar-benar pergi.Hatiku sesak. Bukan karena aku tak lagi peduli pada Mas Azka, tapi justru karena cintaku pada Mas Azka masih ada, dan itu yang paling menyakitkan."Lepasin aku, Mas. Aku mau tidur," ucapku mencoba meninggalkannya.Kenapa setelah aku memilih untuk pergi, Mas Azka malah melarangku? Apa karena yang dijanjikan ayahnya itu?Mas Azka menggeleng cepat, genggamannya semakin erat. "Aku janj
Read more