Mas Azka langsung berhenti. Tatapan wajahnya seolah menyiratkan kekecewaan atas penolakanku. “Dari kapan?” tanya Mas Azka, suaranya terdengar lebih datar dari biasanya. Sebenarnya aku sedang tidak halangan. Hanya saja, aku memang tak ingin lagi disentuh olehnya. Entah kenapa, ada rasa jijik yang muncul saat ia tadi menciumku, sesuatu yang dulu tak pernah kurasakan. Pikiranku langsung melayang ke malam sebelumnya, saat aku mengetahui sesuatu yang membuat dadaku sesak—Mas Azka Dan Viona melakukan itu di kamar tamu. Bayangan itu terus berputar di kepalaku, seolah menolak untuk pergi. “Sudah dua hari,” bohongku. “Aku mau tidur, Mas. Kalau kamu mau di sini, boleh kok. Aku gak akan melarang. Aku duluan ya, Mas. Sudah capek,” lanjutku, mencoba terdengar biasa saja. Aku tidak ingin kebohonganku terungkap, jadi aku memilih mengakhiri percakapan lebih cepat dan berpura-pura tidur. Sebelum benar-benar memejamkan mata, aku mendengar suara pintu dibanting keras. Namun, aku tak meng
Read More