Suasana di dalam mobil mewah yang membawa mereka kembali ke hotel terasa lebih dingin daripada badai salju di luar. Lucia duduk bersandar, melipat tangannya di dada dengan tatapan lurus ke depan, mengabaikan Arthen yang duduk di sampingnya. Manajer Rey yang mengemudi dan Hana di kursi penumpang depan bahkan takut untuk bernapas terlalu keras, mereka tahu badai yang sebenarnya sedang terjadi di kursi belakang.Arthen berdehem, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan itu. "Lucia, soal tadi...""Tangkisan yang luar biasa, Tuan Valerius," potong Lucia tanpa menoleh. Suaranya tenang, namun nadanya setajam silet. "Sangat bertenaga untuk seseorang yang semalam merintih karena pinggangnya 'berdenyut' hebat hingga butuh perhatian khusus."Arthen mengusap tengkuknya, merasa sedikit kikuk. "Efek adrenalin. Saat melihatmu dalam bahaya, tubuhku bereaksi secara otomatis."Lucia akhirnya menoleh, menatap Arthen dengan senyum miring yang meremehkan. "Oh ya, rupanya adrenalin bisa menghilangkan r
Read more