Malam semakin larut saat sedan hitam itu membelah kesunyian jalanan ibu kota.Di dalam kabin, hanya ada suara deru mesin yang halus dan alunan piano yang menenangkan. Arthen tetap fokus pada kemudi, sementara Lucia menyandarkan kepalanya, menatap lampu-lampu jalan yang berlarian di kaca jendela."Terima kasih, Arthen," bisik Lucia memecah keheningan yang panjang. "Dan maaf."Arthen melirik sekilas, sudut birinya terangkat tipis membentuk senyum kecil. "Kenapa setiap kalimatmu malam ini harus diawali dengan maaf, Lucia?""Karena aku tahu kau sangat sibuk," Lucia menoleh sejenak, menatap wajah Arthen dari samping yang diterpa lampu jalan. "Kau bukan hanya seorang aktor papan atas, kau juga sekarang seorang CEO V-ACE. Menungguku berjam-jam di parkiran gelap seperti itu... rasanya aku benar-benar merepotkanmu.""Repot?" Arthen terkekeh pelan, suara baritonnya terdengar begitu dalam dan menenangkan di ruang sempit itu. "Lucia, jika aku merasa direpotkan, aku tidak akan ada di sana sejak aw
Read more