Share

Bab 149

Author: Zhar
last update publish date: 2026-05-07 08:10:03

Dimas memberinya uang, lalu memintanya pergi dan menghubunginya lagi saat waktu makan siang tiba.

Yaho langsung setuju. Ia justru senang “dipecat” sementara waktu dan segera menelepon ayahnya untuk menanyakan kondisi ibunya. Kabar baiknya, sang ibu sudah pulih dengan baik dan akan segera pulang begitu dokter mengizinkan.

“Baiklah, terus Andi di mana?”

Dimas bertanya tentang adiknya. Ia ingin bicara empat mata, jadi ia menanyakannya pada ayah mereka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 150

    Dimas melihat Jack yang tampak terkejut, lalu tersenyum tipis. Ia sendiri tidak terlalu kaget. Menjadi pengguna sistem membuatnya terbiasa menghadapi kejadian-kejadian di luar nalar tanpa banyak reaksi. Sepertinya sistemnya memang lebih kuat dariku? Dimas tidak berlama-lama memikirkan hal itu. Ia keluar dari toko dan melihat Yaho berdiri sendirian di luar. Pria itu langsung tersenyum lebar. “Perempuan itu memberiku gelang. Menurutku kelihatan keren.” Yaho mengangkat pergelangan tangannya, memamerkan gelang pemberian Emma. Kesan mewahnya langsung terasa. Dimas sampai harus mengertakkan gigi. Ia tahu persis benda itu Cartier, desain masa depan, elegan dan mahal. Jadi, apa dia datang ke sini hanya untuk mengingatkanku pada kesempatan yang kulewatkan? Atau ada maksud lain? Dimas kembali ke mobil dan duduk tanpa banyak bicara. Ia ingin sendirian, menenangkan pikiran, dan memikirkan semuanya dengan m

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 149

    Dimas memberinya uang, lalu memintanya pergi dan menghubunginya lagi saat waktu makan siang tiba. Yaho langsung setuju. Ia justru senang “dipecat” sementara waktu dan segera menelepon ayahnya untuk menanyakan kondisi ibunya. Kabar baiknya, sang ibu sudah pulih dengan baik dan akan segera pulang begitu dokter mengizinkan. “Baiklah, terus Andi di mana?” Dimas bertanya tentang adiknya. Ia ingin bicara empat mata, jadi ia menanyakannya pada ayah mereka. “Andi? Dia ke hotel. Kamu bisa telepon dia langsung,” jawab Pak Roy. Pak Roy terdengar batuk kecil, lalu setelah beberapa kalimat dengan Dimas, ia menutup panggilan. Dimas mengangguk. Mendengar yang bersama ayahnya bukan Andi, ia langsung menelepon adiknya. Ada satu hal penting yang ingin ia tanyakan tentang tugas yang pernah ia titipkan sebelum meninggalkan rumah. Tu… tu… “Halo, Mas Dimas. Iya, aku nggak bareng Ayah. K

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 148

    “Tentu, kami memiliki banyak agen, jadi kami bisa mencairkan cek itu dalam satu atau dua hari. Berapa yang ingin Anda tukarkan, Pak?” Ichigo bertanya sambil tersenyum. Ia bahkan tidak menyuruh Yaho duduk. Orang Jepang memang dikenal sangat sopan dan berbudaya, kadang terasa berlebihan. “Bagaimana kalau dua ratus juta rupiah?” Dimas bertanya. Ia ingin membeli oleh-oleh untuk seluruh keluarga dan teman-temannya. Selain itu, ia juga punya dua teman baru dari kampus, jadi rasanya tak pantas jika pulang tanpa membawa suvenir. “Pak? Itu setara dengan sekitar sebelas juta yen. Saya bisa memberikannya secara tunai atau langsung memasukkannya ke rekening bank rekan Anda, jadi bisa digunakan ke mana pun kalian pergi.” Ichigo berkata sambil dengan cepat menuliskan sesuatu. Bahkan sebelum Dimas menandatangani cek, Ichigo sudah yakin dengan identitas dan dana miliknya. Ia sudah melihat sendiri bagaimana Dimas bermain, dan

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 147

    Setelah mengunjungi tempat itu, Yaho membawa Dimas ke samping dan memberinya sesuatu untuk dimakan camilan manis dan kenyal yang disebut mochi. Dimas merasa rasanya enak sekali. Setelah itu, Yaho menyuruh sopirnya menyiapkan mobil. Ia ingin membawa Dimas ke tempat lain. Dimas mengangguk setuju. Ia memang tidak terlalu tertarik pada shogun Jepang, tapi kalau sampai dihadiahi istana seperti ini, itu urusan lain lagipula, pria mana yang tidak ingin punya kastil? Yaho membawa Dimas ke area parit. Tempat itu sangat indah. Dimas menyukai betapa artistiknya hasil karya orang-orang di abad pertengahan. Tak lama kemudian, mobil tiba di jalan terdekat untuk menjemput mereka. Yaho mengatakan sesuatu pada sopir dalam bahasa Jepang, dan sopir itu hanya mengangguk. “Kita bisa pergi minum teh sekarang. Teh yang sehat dan autentik, di Taman Hama-Rikyu,” kata Yaho. Lalu ia membawa Dimas ke tepi sungai, di mana

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 146

    “Eh! Aku kan nggak bilang apa-apa.” Dimas berkata sambil tersenyum, lalu menggaruk kepalanya dengan agak canggung. Kalau dipikir-pikir, situasinya memang sedikit memalukan. “Nama saya Nakayama Yaho.” Ia membungkuk cukup dalam, lalu berkata, “Mari kita berangkat. Saya akan mengantar Anda ke hotel sekarang. Barang bawaannya juga bisa saya bawakan.” Sambil berkata begitu, Yaho mencoba mengambil koper dari tangan Dimas. Namun Dimas menggeleng dan mengatakan kalau dia bisa membawanya sendiri. Yaho mengangguk sopan. Ia tidak memaksakan kehendaknya pada tamu. Setelah itu, ia berjalan di depan, dan Dimas mengikutinya dari belakang. Beberapa orang di bandara menoleh ke arah mereka ketika tiba-tiba empat petugas keamanan muncul entah dari mana dan langsung memberikan pengawalan khusus untuk Dimas. “Ini paket yang Anda pilih. Paket Anda adalah Ultra VIP.” Yaho berkata sambil memperhatikan e

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 145

    Dimas menghela napas. Dengan pemahaman polosnya, dia hanya bisa mengangguk lalu menuliskan cek untuk mereka. Ia memberikan cek senilai satu miliar rupiah, dan Anin menerimanya sambil tersenyum, lalu menunjukkannya pada Bella. Dimas tampak agak lelah dengan permainan kecil mereka. Ia pun duduk di sofa dan memesan makanan penutup ringan untuk dirinya sendiri. Karena ingin yang dingin, ia juga memesan es krim premium dari kedai es krim di lantai bawah. “Kamu pesan cuma buat diri kamu sendiri?” tanya Anin. Suaranya terdengar jauh lebih ceria dari sebelumnya. Ia duduk di samping Dimas, mengambil es krim itu untuk dirinya sendiri, bahkan memberikan sebagian pada Bella. Dimas mulai merasa frustrasi dengan tingkah mereka. Ia ingin pergi secepat mungkin dan kembali lagi saat suasana lengket itu sudah menghilang. “Aku pergi dan menginap di rumahmu malam ini. Kamu tetap di sini saja, Anin,” kata Dimas, la

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 30

    Dimas kemudian mengusap bola voli itu sedikit karena seluruh permukaannya terasa licin oleh keringat. Ia menatap Raga, yang sudah menekuk lutut, siap menerima servis keras darinya. Kaki Dimas terangkat. Ia berniat melakukan jump serve cepat lagi. Dimas mengerahkan se

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 29

    Setelah semua siap, para pemain kembali ke lapangan GOR. Ketika Dimas keluar dari ruang istirahat, ia melihat Raga sudah berdiri di area serang, memegang bola voli di tangannya dengan sikap dominan seolah seluruh lapangan adalah wilayah kekuasaannya. “Teman-teman, dan para penonton

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 28

    Dimas pun bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum sopan pada pria paruh baya itu. “Jadi kamu ini anak ajaib, ya? Oke, ikut lari sama mereka. Biar aku ngomong sama pelatihmu. Cukup lari buat pemanasan saja, jangan kebablasan,” kata pria paruh baya itu sambil menunjuk para pemain

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 27

    Saat Dimas meninggalkan asrama kampus, ia mengecek email di ponselnya. Ada jadwal pertemuan dengan dosen pembimbing jam enam sore nanti, dan ia tidak yakin bisa kembali tepat waktu. Sepertinya harus aku reschedule semua janji hari ini… Dimas keluar sebelum jam delapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status