“Tidak, aku rasa aku tidak perlu pistol. Aku cuma mau muter sebentar, habis itu balik ke asrama. Kalian ke sana dulu aja, tunggu sebentar.” Setelah berkata begitu, Dimas langsung masuk ke garasi. Ia memakai kunci yang baru saja didapat dari Leopold, lalu menyalakan mobil. Begitu mesin hidup, suaranya menggeram keras seperti harimau yang bangun dari tidur. Jay dan Pak Budi langsung terkejut melihat cara Dimas menghidupkan mobilnya. Selama ini, Dimas selalu terlihat dewasa, tenang, dan terkendali nyaris tak pernah bertingkah seperti anak muda. Tapi sekarang, melihat sisi ini, keduanya benar-benar kaget. Begitu tangan Dimas menggenggam setir, ia langsung merasa nyaman. Tiga kursi di dalam mobil itu terasa pas, seolah memang dibuat khusus untuknya. Anin dan Bella duduk di sisi kiri dan kanannya. “Hm… mobil ini sempurna,” gumamnya dalam hati. Dimas sempat melamun sejenak, lalu menginjak pedal gas. M
Mehr lesen