Anin terkekeh pelan. “Kamu lebih bertanggung jawab dariku, tahu nggak?” Bella tersenyum lebar, penuh kebanggaan. “Soalnya kamu keluarga. Keluarga itu saling jaga.” Mata Anin terasa sedikit perih. Ia sudah kehilangan terlalu banyak begitu banyak wajah yang perlahan memudar dari ingatannya. Tapi sekarang, ada gadis ini di sampingnya. Merawatnya saat sakit, mengawasinya seperti elang, dan tak pernah sekalipun meminta imbalan. Anin menarik Bella ke dalam pelukan samping, berhati-hati agar tidak menekan perutnya. “Kamu adik terbaik yang nggak pernah aku minta,” bisiknya. Bella tersenyum lembut. “Dan kamu kakak yang selalu aku butuhin.” Di depan, Ray pura-pura tidak mendengar. Ia membelokkan mobil ke jalan raya, Mercedes meluncur mulus di tengah lalu lintas pagi Dakarta. Dari kaca spion, Ray melihat Anin menyandarkan kepala di bahu Bella, se
Read more