Pintu apartemen ditutup pelan, tapi suaranya terasa berat dan kosong. Anin menghembuskan napas panjang, kunci masih digenggam erat, sambil memandang ruangan yang sekarang telanjang. Sudut kecil yang selama bertahun-tahun jadi tempat aman buatnya. Bella berdiri di sampingnya, koper besar beroda di sebelahnya, wajahnya lembut tapi sedih. “Kayak nggak pernah ngerasa tinggal di sini ya,” kata Bella sambil ngelus-ngelus bekas penyok kecil di dinding sisa main bulutangkis indoor malam-malam. “Kupikir bakal lebih susah,” bisik Anin. “Tapi ternyata enggak. Aku udah siap.” Mereka nggak berlama-lama. Mobil sudah nunggu di bawah, kaca gelap, Ray di kursi sopir seperti biasa. Jay bersandar di pintu, main hp, tapi langsung nyamperin begitu lihat mereka bawa tas. “Nggak ada wartawan,” katanya santai. “Nggak ada yang nguntit juga. Ray yang ngurus.” Anin cuma mengangguk. Sepanjang jalan balik ke hotel dia diem
Read more