Kalimat itu jatuh seperti petir di tengah meja makan.Semua orang membeku.Reis mengangkat wajahnya perlahan, dan dalam satu detik, kehangatan pagi itu lenyap dari sorot matanya. Yang tersisa hanya dingin yang biasa ia bawa ke medan perang.“Tidak ada seorang pun yang meninggalkan ruangan ini.”Perintah itu tidak keras, tetapi tidak memberi ruang untuk membantah.Pengawal yang berjaga di luar langsung masuk. Pintu besar ditutup rapat. Ruangan yang beberapa saat lalu dipenuhi aroma roti hangat kini terasa sesak oleh ketakutan.Helena menatap cangkir di depan Lorenne, lalu pada pelayan yang menuangkannya. “Siapa yang menyiapkan teh ini?” tanyanya, suaranya gemetar meski berusaha tetap anggun.Pelayan itu langsung berlutut. “Hamba hanya menuangkan, Yang Mulia… semuanya dari dapur utama…”Batuk Lorenne terdengar lagi, lebih dalam, lebih menyakitkan.Tubuhnya tiba-tiba kehilangan kekuatan.Darah mengalir lebih jelas dari sudut bibirnya, menetes ke gaun pagi yang ia kenakan.“Lorenne.”Nama
آخر تحديث : 2026-02-28 اقرأ المزيد