“Dulu saya belum terbiasa,” jawab Lorenne ringan. “Sekarang sudah.”“Terbiasa denganku?”Lorenne menatapnya sekilas, matanya lebih lembut dari biasanya. “Terbiasa bahwa Anda memang seperti ini.”Bukan rayuan. Bukan kalimat manis yang berlebihan, Hanya pengakuan sederhana.Reis terdiam sesaat, lalu tersenyum lagi kali ini tanpa godaan.“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku akan terus seperti ini.”Lorenne menghela napas kecil, lebih tenang.“Silakan. Saya sudah kebal.”“Jangan terlalu percaya diri,” balasnya cepat.Lorenne tertawa kecil tawa yang jarang terdengar di luar kamar ini.Pagi itu Lorenne sudah duduk di ruang kerjanya sejak matahari belum sepenuhnya tinggi. Tumpukan dokumen terbuka di hadapannya, segel-segel lilin berjejer rapi di sisi meja.Ketukan ringan terdengar, tapi tanpa menunggu jawaban, pintu sudah lebih dulu terbuka.Roseane masuk dengan langkah anggun, senyum tipis yang sulit ditebak maksudnya.“Aku dengar,” katanya tanpa basa-basi, “kau akan pergi ke pesta teh Marchi
اقرأ المزيد