Langkah Helena menjauh perlahan, gaunnya berdesir lembut di atas lantai batu.Namun sebelum benar-benar meninggalkan halaman, ia berhenti sejenak.“Reis,” panggilnya tanpa menoleh.Putranya tidak menjawab, tetapi ia tahu ia masih mendengarkan.“Dalam sejarah kekaisaran,” lanjut Helena pelan, “takhta selalu bertahan karena keputusan yang dingin. Bukan karena perasaan.”Reis akhirnya berbicara, suaranya tenang namun tegas.“Dan dalam sejarah yang sama, banyak takhta runtuh karena penguasa tidak pernah memiliki siapa pun yang benar-benar berdiri di sisinya.”Helena terdiam.Angin pagi kembali berembus, membawa keheningan yang lebih berat dari sebelumnya.“Aku tidak menentang Lorenne,” kata Helena akhirnya, kali ini lebih jujur. “Aku menentang kelemahan.”Reis memalingkan wajahnya, menatap ibunya secara langsung.“Kalau begitu Ibu salah menilai,” ucapnya pelan. “Karena Lorenne bukan kelemahan.”Tatapan mereka bertemu.“Apa dia kekuatanmu?” tanya Helena, menguji.Reis tidak langsung menjaw
続きを読む