Lorrene menghela napas pelan, panjang, seolah berusaha menenangkan dirinya sendiri setelah semua yang baru saja terjadi. Jemarinya yang sempat menegang perlahan mengendur, dan bahunya sedikit turun. “Aku baik-baik saja,” ucapnya lembut, suaranya tidak tinggi, namun cukup jelas untuk menembus keheningan di antara mereka.Reis tidak langsung menjawab.Ia sudah melepaskan pelukannya, namun tidak benar-benar menjauh. Tatapannya masih tertuju pada Lorrene, tajam dan dalam, menelusuri setiap detail wajah wanita itu seolah ia belum sepenuhnya percaya. Seolah hanya dengan melihat pun masih belum cukup untuk memastikan bahwa Lorrene benar-benar selamat.“Aku benar-benar takut,” katanya akhirnya.Nada suaranya rendah, hampir seperti gumaman, namun berat. Tidak ada wibawa seorang Kaisar di sana, tidak ada jarak, tidak ada kendali yang biasanya ia jaga. Hanya kejujuran yang terlalu dekat untuk disembunyikan.Lorrene terdiam sesaat.Lalu, seperti biasa, ia memilih untuk tidak membiarkan suasana it
Read more