Lorrene menatap Rowan dengan tajam, sorot matanya penuh penolakan, seolah berharap pria itu akan menarik kembali kata-katanya dan mengakui bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. “Jangan bercanda, Rowan,” ucapnya dingin, suaranya tenang namun mengandung tekanan yang jelas.Namun Rowan tidak bergeming sedikit pun. Ia tetap berdiri tegak, tanpa ragu, tanpa mengalihkan pandangan.“Saya tidak bercanda, Yang Mulia,” jawabnya tegas. Tanpa menunggu lebih lama, ia melangkah mendekat dan mengeluarkan sebuah surat, lalu meletakkannya di atas meja di hadapan Lorrene dengan hati-hati, seolah benda itu memiliki bobot yang jauh lebih berat dari sekadar kertas.Ruangan itu seketika terasa lebih sunyi.Lorrene tidak berkata apa-apa lagi. Ia segera mengambil pisau pembuka surat di sampingnya, membuka segel dengan gerakan cepat, lalu membaca isi surat itu. Tatapannya bergerak cepat, menyusuri setiap baris tanpa melewatkan satu pun kata. Namun semakin lama, ekspresinya berubah. Ketenangan yang tadi ia
Read more