Di dalam ruangannya, udara terasa lebih dingin daripada biasanya.Cahaya dari jendela tinggi jatuh miring ke atas meja kerja yang dipenuhi dokumen, menciptakan bayangan panjang yang mempertegas kesunyian di dalam ruangan itu. Tidak ada suara selain gesekan halus kertas ketika Calix menutup berkas terakhir yang sejak tadi ia baca dengan saksama.Ia tidak langsung berbicara.Punggungnya bersandar perlahan pada kursi, jemarinya masih menahan dokumen itu sejenak sebelum akhirnya ia meletakkannya di atas meja. Sudut bibirnya terangkat tipis sebuah senyum yang tidak menunjukkan kehangatan, melainkan kepuasan yang dingin, lahir dari sesuatu yang telah berjalan persis seperti yang ia rencanakan.Tatapannya terangkat.Berhenti pada sosok yang berdiri tegak di hadapannya.“Ini sempurna, Essel.”Suaranya rendah, tenang, namun membawa bobot yang tidak bisa disalahartikan. Tidak ada pujian berlebihan, tetapi cukup untuk membuat siapa pun mengerti bahwa apa yang telah dilakukan itu… bernilai.Essel
Read more