“Sial! Kenapa wanita itu terus maju? Apa dia ingin mati konyol?!” Aldric bergegas berlari maju menuju Marielle sambil terus menyerang musuh.Gemuruh perang di sekitar Aldric seolah senyap seketika, digantikan oleh detak jantungnya yang berpacu liar. Di ujung sana, Marielle memacu kudanya tanpa ragu, membelah lautan manusia. Namun, yang membuat darah Aldric semakin berdesir dingin bukanlah musuh di darat, melainkan moncong-moncong busur dan panah yang mulai membidik dari atas menara mansion Valtore.Marielle tidak sedang melarikan diri. Dia sedang menuju tepat ke arah garis tembak demi menjadi perisai bagi dirinya dan Cassian."Sialan!" umpat Aldric.Dengan kekuatan penuh, ia menebas dua prajurit Eldora yang menghalanginya, lalu merebut seekor kuda tak bertuan yang melintas di dekatnya. Ia melompat naik, memacu hewan itu segila mungkin membelah kekacauan medan laga.Di menara mansion, seorang komandan pemanah Eldora mengangkat tangannya, mencoba mencari momen yang pas untuk menemba
Read more