LOGIN"Grand Duke," panggil Marielle dengan suara yang jernih dan tenang.Langkah tegap Aldric terhenti. Ia berbalik, menatap Marielle dengan alis terangkat. "Ada apa lagi?""Terima kasih atas kebaikan Anda. Saya pamit untuk pulang," ujar Marielle lugas. "Saya akan kembali ke rumah saya sendiri di pinggir desa."Aldric membelalakkan mata. Kerutan di dahinya dalam seketika. "Rumahmu? Maksudmu pondok kecil itu?""Benar," sahut Marielle tanpa ragu. "Tempat itu adalah rumah saya yang sebenarnya di Valerante. Diana dan saya akan tinggal di sana."Dada Aldric berdesir kencang. Rasa tidak rela mendadak membakar batin sang Grand Duke. Bagaimana mungkin ia membiarkan wanita yang baru saja pulih dari ancaman racun istana tinggal di tempat terpencil di pinggir desa?"Tidak bisa," potong Aldric tegas, melangkah mendekati Marielle. "Rumah itu sudah lama kosong dan letaknya terlalu dekat dengan area hutan. Kondisimu belum…" Kalimat Aldric terjeda."Grand Duke Aldric!" Sebuah seruan nyaring memot
“Tanpa kau suruh, aku juga akan memakannya,” balas Marielle dingin.Aldric hanya bisa terdiam. Dirinya sebenarnya kesal, namun untuk menjaga suasana tetap terjaga, untuk sekarang dia lebih memilih untuk mengalah.“Grand Duke, terima kasih atas bantuanmu. Karenamu, aku bisa keluar dari istana.” Suara lirih Marielle menghentikan tangan Aldric yang terus mengaduk sup di mangkuk miliknya.“Kau tidak perlu berterima kasih. Anggap saja itu balas budiku karena kau sudah membantuku melawan Heinry.”Suasana kembali hening. Perlahan Aldric mengangkat kepalanya dan melihat wanita yang duduk di seberang. Ia melihat Marielle mengangguk dengan tatapan kosong. Meski begitu, di mata Aldric Marielle terlihat sangat cantik.Namun, ia segera menepis semua itu. Ia langsung menggelengkan kepala pelan dan kembali fokus pada makanannya.“Habiskan makananmu. Dan cepat tidur, karena besok pagi kita harus melanjutkan perjalanan.”“Iya…”Sup daging di mangkuk mereka akhirnya habis. Keheningan yang menyelimuti
“Lady, Anda tadi sangat berani bicara tegas depan Raja. Anda tidak takut jika Yang Mulia Marah?” Diana mendekat pada Marielle saat dalam kereta kuda.“Justru itu. Aku harus membuatnya membenciku agar rumah tangga Raja dan Ratu bertahan lebih lama. Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang,” balas Marielle enteng dengan pandangan yang terus melihat keluar jendela.“Begitu… bagi saya, Lady tadi sangat keren.” Diana menyunggingkan senyum sumringah.Marielle membalas senyum itu sebentar, lalu kembali menatap jalanan yang mereka lalui.Di dalam kereta, Marielle bersandar pada bantalan beludru, menatap pepohonan pinus tinggi yang mulai menggantikan deretan bangunan megah ibukota. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, dadanya tak lagi terasa sesak.Sesekali, pandangan Marielle bertemu dengan Aldric yang menunggang kuda. Namun setiap mata mereka bertemu, keduanya langsung memalingkan muka. Seolah menghindari satu sama lain.Memasuki senja, kabut tebal khas daerah pegunungan mulai turu
"Kau tidak boleh pergi!" Suara Cassian yang bernada menahan kemarahan memecah keheningan pelataran utama. Beberapa pengawal istana di ambang gerbang refleks menegakkan tubuh, merasakan atmosfer di antara para bangsawan tinggi itu mendadak menegang.Marielle menghentikan langkahnya tepat di depan anak tangga. Ia berbalik perlahan, mempertahankan gestur tubuhnya yang tenang dan anggun. Sorot mata peraknya menatap Cassian lurus-lurus tanpa menyisipkan sedikitpun rasa takut."Apa yang membuat Yang Mulia menahan saya?" tanya Marielle, suaranya terdengar lembut namun tegas. "Kondisi tubuh saya sudah sangat stabil, dan batas waktu dua hari yang Yang Mulia berikan telah genap saat matahari terbit pagi ini."Cassian melangkah maju satu langkah, mencoba menguasai situasi yang membuatnya pelik. "Marielle, keputusanmu terlalu terburu-buru. Kau baru saja membaik dari luka yang serius. Sebagai pelindung wilayah Minerva, aku tidak bisa membiarkan pahlawan yang telah menumpahkan darahnya untu
”Dasar! Merepotkanku saja!” Aldric berdecih pelan, namun terdengar jelas oleh Marielle.Punggung tegap Aldric perlahan menjauh dan menghilang di belokan lorong. Marielle berdiri di ambang pintu untuk waktu yang cukup lama, menatap ruang kosong yang ditinggalkan Grand Duke itu sebelum akhirnya melangkah mundur dan menutup pintu rapat-rapat."Lady..." Diana mendekat dengan wajah cemas luar biasa. Tangannya gemetar pelan saat memegang lengan gaun Marielle. "Apakah ucapan Grand Duke tadi benar? Raja... benar-benar bermaksud ingin meracuni Anda?"Marielle memejamkan mata sejenak, menghembuskan nafas panjang. Ketika ia membuka matanya kembali, sorot perak itu memancarkan tekad yang tak tergoyahkan."Aku tidak tahu. Tapi untuk sekarang kita harus lebih berhati-hati," sahut Marielle dingin. "Yang Mulia Raja memang tidak pernah berubah. Tapi aku tidak menyangka jika dia akan berbuat sejauh ini untuk menahanku."Marielle berdiri mematung sejenak. Pikirannya terus menuju sang Raja dimana a
"Pergi dari hadapanku sebelum aku benar-benar memindahkannmu ke kandang kuda, Tristan!" usir Aldric dengan nada menahan geram.Tristan membungkuk tegak bagai papan lalu buru-buru melangkah keluar, meninggalkan sang Grand Duke yang masih mengusap wajahnya kasar.Aldric menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya agak memerah campuran antara gengsi yang tersenggol dan rasa takut kalau Marielle menganggapnya terlalu mencampuri urusannya.”Ini tidak bisa dibiarkan,” batin Aldric kaku. “Kalau aku tidak meluruskan ini, wanita itu akan makin besar kepala.”Dengan langkah lebar dan jubah hitam yang melambai tegas, Aldric akhirnya memutuskan untuk mendatangi paviliun Marielle sendiri. Masa bodoh jika orang-orang istana melihatnya. Keadaan sudah terlalu gawat mengingat Cassian punya waktu kurang dari dua hari untuk melancarkan rencananya agar Marielle tidak jadi meninggalkan istana.Sesampainya di depan pintu kamar Marielle, ia mengetuk pintu sedikit kencang. Marielle yang sedang mem
“Dengan ini, festival berburu kerajaan tahun ini resmi dimulai!” Suara Cassian menggema di lapangan utama istana saat pidato pembukaan festival berburu yang akan diadakan tahun ini.Sorak para bangsawan dan tepuk tangan memenuhi udara pagi yang cerah itu. Panji-panji kerajaan berkibar, k
“Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem
“Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk







