LOGINAmaya menelan ludah dengan susah payah. Rasa saus kacang yang gurih di lidahnya mendadak berubah tawar, seolah-olah seluruh saraf perasanya mendadak lumpuh akibat aura dingin yang dipancarkan Brian. Pria itu tidak menyentuh piring batagornya sama sekali. Ia hanya duduk bersandar, melipat tangan di depan dada, sementara matanya yang tajam seolah sedang membedah isi kepala Amaya.
"Sepertinya selera makanmu mendadak hilang, Amay," suara Brian rendah, nyaris menyeruPagi yang seharusnya menjadi awal dari persiapan keberangkatan menuju Sapporo, mendadak berubah menjadi babak baru yang penuh dengan kecemasan yang mencekik. Setelah konfrontasi panas dengan Abram, Brian mencoba menenangkan diri dengan menenggelamkan diri pada tumpukan pekerjaan. Di kamar Amaya yang kini sudah berubah nyaman, ia berkutat dengan laptopnya, memeriksa deretan email penting yang dikirimkan oleh sekretaris pribadinya terkait operasional Lentera Maritim. Suara denting notifikasi dan angka-angka statistik di layar komputer sejenak mengalihkan fokusnya dari rasa kesal pada Abram. Namun, setelah beberapa saat tenggelam dalam konsentrasi yang dalam, Brian akhirnya menutup laptopnya dengan suara dentuman pelan. Ia menaruh benda tipis itu di sisi kasur queen size yang masih menyimpan aroma tubuh Amaya. Pria itu turun dari ranjang, meregangkan otot-otot badannya yang terasa kaku dan pegal akibat posisi tidur yang tidak proporsional semalam. Ia menarik napas panjang, mencoba me
Pagi itu di panti asuhan yang kini telah bersolek mewah terasa begitu kontras dengan badai yang mulai bergejolak di dalam dada Abram Sidarta. Langkah kakinya yang ragu tertahan di ambang pintu, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang kini tampak asing baginya. Kemewahan yang dipaksakan masuk ke bangunan sederhana itu terasa seperti tamparan keras bagi harga diri Abram. “Waalaikumsalam, pagi Nak Bram,” sapa Rahmi dengan senyum yang selalu sama, hangat dan menenangkan, meski kini ia berdiri di tengah-tengah ruangan yang tampak seperti lobi hotel berbintang. “Kemarin ruangannya belum berubah, sekarang tiba-tiba semakin bagus, Bu,” puji Abram, namun suaranya terdengar hambar, ada nada getir yang terselip di balik pujian itu. Rahmi tersenyum lebar, ada rona kebanggaan saat menceritakan perubahan ini. “Iya, Bram. Suaminya Maya yang tiba-tiba merapikan semuanya kemarin siang. Ibu sendiri sampai pangling, gak nyangka bisa secepat itu.”
Malam di panti asuhan yang biasanya hanya dihiasi suara jangkrik dan embusan angin sepoi-sepoi, kini berubah menjadi sebuah simfoni kemewahan yang ganjil. Amaya melangkah masuk ke dalam rumah yang membesarkannya dengan perasaan yang campur aduk. Namun, baru beberapa langkah melewati ambang pintu, langkahnya terhenti. Dunianya seolah bergeser beberapa derajat. Sofa lama yang busanya sudah kempes di sana-sini kini tak lagi tampak. Sebagai gantinya, sebuah sofa baru dengan material premium menyapa indra perabanya. Namun, bukan itu yang membuat jantungnya berdegup kencang. Amaya terperangah menatap susunan lemari yang biasanya digunakan untuk menyimpan tumpukan buku pelajaran dan data-data administratif anak panti. Lemari-lemari kayu yang sudah mulai dimakan rayap itu telah tersingkir entah ke mana, digantikan oleh pemandangan luas dengan wallpaper bertekstur panel berwarna abu-abu elegan yang menutupi dinding. Di sudut depan, sebuah meja kerja bermaterial kayu solid dengan kursi ergo
“Nanti pulang kantor mampir ke panti lagi, ya,” pinta Amaya setelah beberapa waktu mereka hanya terdiam di dalam mobil. Fares duduk di kursi kemudi, fokus pada jalanan. Brian yang sedang sibuk menggulir layar ponselnya hanya melirik sang istri sekilas melalui sudut matanya. “Kamu tadi bicara apa sama Ibu?” tanya Amaya penasaran. Meskipun tidak ada respon verbal dari suaminya, Amaya tahu Brian memang tipe pria yang pelit bicara. Namun, ia juga tahu bahwa di balik kebisuannya, Brian adalah pria yang penuh aksi. Sekian banyak hal yang ia inginkan, Brian hampir selalu memberikannya secara diam-diam tanpa perlu berkata "iya". “Kepo!” ujar Brian singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, membuat Amaya hanya bisa mendengus kesal. Waktu berputar dengan cepat di bawah tekanan pekerjaan. Amaya tenggelam dalam tumpukan berkas dan jadwal yang padat. Brian benar-benar menugaskan
"Ini kesempatan emas untuk merebut wilayah yang sebenarnya milikku! Brian, kini kamu tamat!" batin pria yang saat ini setiap mendengarkan curahan hati sang adik dengan seksama. Dia tidak menyangka, jika keputusannya untuk menghibur sang adik yang sedang patah hati, justru membuka peluang besar untuk keberlangsungan bisnisnya. “Kalau begitu, kamu punya alasan lebih kuat untuk tidak menyerah, Bram,” ucap kakaknya pelan namun tajam. “Jika kamu yakin dia akan menderita, maka diammu saat ini adalah sebuah dosa. Kamu mungkin tidak bisa menikahinya hari ini, tapi kamu bisa menjadi pelarian yang dia butuhkan saat dia hancur nanti. Atau, kamu bisa menghancurkan pria itu sebelum dia menghancurkan sahabatmu.” Abram tertegun mendengar ucapan kakaknya. Selama ini ia selalu merasa lemah karena bayang-bayang ayahnya. Namun kini, rasa cintanya pada Amaya memberikannya sebuah percikan api baru. Rasa sakit hati akibat makian ayahnya pagi tadi seolah bersinergi dengan rasa cemburunya pada Brian.
Pagi yang seharusnya menjadi awal baru bagi setiap orang, justru terasa menyesakkan bagi Abram Sidarta. Di ruang makan rumah mewah keluarga Sidarta yang bernuansa klasik Eropa, suasana kaku menyelimuti meja kayu jati yang penuh dengan hidangan lezat. Aroma kopi Arabika dan roti panggang yang biasanya menggugah selera, kini hanya menjadi penghias ruang yang terasa hambar bagi indra perasa Abram. Abram duduk dengan punggung tegak namun matanya menatap kosong ke arah piring keramik mahal di depannya. Ia mengunyah potongan roti isi dengan gerakan mekanis, tanpa antusiasme sedikit pun. Di depannya, sosok pria paruh baya dengan wibawa yang masih sangat kental, Billy Sidarta, sesekali melirik anak bungsunya itu dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara kekecewaan dan keras kepala. “Abram, sering-sering pulang ya. Kasihan mami, rumah ini terlalu besar kalau hanya kami berdua yang mengisi,” suara Emmilia, sang ibu, memecah kesunyian dengan nada yan







