"Bibi Erina, aku sudah dewasa. Aku bisa menangani masalahku sendiri, Bibi nggak perlu mencari Tuan Farel," ujar Ziana dengan suara lembut."Nggak bisa begitu. Bibi sudah janji pada orang tuamu untuk menjagamu. Selama ini, kamu sangat penurut dan nggak pernah merepotkan Bibi, mana mungkin Bibi membiarkanmu menderita? Lagi pula, di dalam hati Bibi, kamu sudah kuanggap sebagai menantuku sendiri."Setiap kali topik ini muncul, Erina selalu terdengar sangat senang. Ziana terdiam sejenak, bingung harus merespons apa. Sebab, Erina tidak tahu bahwa dia dan Farel pernah menjalin hubungan, apalagi sampai berakhir kacau seperti sekarang. Terlebih, hubungan Farel dan Silvia sudah diumumkan secara resmi.Ziana pun mengalihkan pembicaraan. "Bibi Erina, kenapa tiba-tiba meneleponku?" "Bibi kangen. Tunggu Bibi pulang ya, kamu harus ke sini untuk makan malam dan menemaniku." "Itu ...." Ziana sebenarnya enggan ke kediaman Keluarga Anggara, tapi dia tidak tega membuat Erina kecewa. "Baiklah, aku pas
Read more