Mendengar bahwa Vihan setuju menghadiri pernikahan demi Silvia, Ziana sempat terpaku sejenak. Dia merasa dirinya seperti seorang badut. Barulah saat Farel menarik tangannya, dia tersadar."Kenapa bingkai fotonya kamu taruh sembarangan? Bagaimana kalau sampai dikira sampah dan dibuang? Aku sudah memperbaikinya, kamu bawa pulang."Saat bingkai itu menyentuh tangan Ziana, dia mengepalkan tangannya. Dia sama sekali tidak menginginkan benda itu. Dia berkata dengan nada dingin, "Tuan Farel, bingkai itu nggak aku taruh sembarangan. Benda itu memang sampah."Farel tertegun sejenak, lalu menyipitkan mata. "Ziana, apa kamu tahu bingkai ini ....""Tahu apa?" tanya Ziana balik. Sebenarnya dia tidak berharap Farel akan jujur."Aku rasa bingkai ini sangat kukenal. Simpan saja baik-baik, jangan sampai nanti kamu mencarinya dan nggak ketemu ....""Tuan Farel, nggak ada lagi hubungan di antara kita," Ziana mengingatkan. "Kamu sendiri yang bilang, barang yang nggak penting, nggak perlu disimpan. Ak
Read more