Sheza sudah sangat mengantuk. Meski sesapan Satria di putingnya cukup kuat hingga menyisakan perih dan merah, kantuk tetap datang, menariknya pelan tanpa bisa ia tahan. Saat Satria memintanya berbaring lagi, Sheza menurut. Perutnya yang besar membuatnya menekuk kaki dan mengusapnya pelan. Tangan Satria sempat mengikuti, lalu kembali naik—menangkup payudaranya, memijat dan memainkan putingnya seolah tak pernah puas. Sheza tetap memejamkan mata. Saat Satria menarik turun celana dalamnya sampai benar-benar lepas, ia hanya menghela napas pelan. Ia tahu Satria ingin bercinta dengannya malam itu. Hampir setahun bersama membuatnya paham, setiap kali lelah atau tertekan, Satria selalu datang padanya seperti ini—mendekat, mencumbu payudaranya lebih dulu seolah mencari tenang, lalu menyalurkan semuanya di tubuhnya, sebelum akhirnya tertidur dalam pelukannya. Sheza mengangkat pinggulnya, membiarkan Satria menyingkirkan sisa penutup tubuhnya tanpa penolakan. Ia bergumam pelan, setengah sadar, s
Read more