Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 178. Hanya Perkara Waktu

Share

Bab 178. Hanya Perkara Waktu

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-04-21 00:58:11
Satria menggeleng pelan.

“Saya nggak bilang siapa pun,” katanya.

“Tapi saya cukup tau jalur ini terlalu bersih untuk tiba-tiba kacau tanpa ada yang pegang kendali.”

Nadine bergeser sedikit. Ia melepaskan sendok teh yang sejak tadi ia pegang. Kini pembicaraan itu semakin membuatnya tertarik.

Salim tertawa pendek. Tidak ada kehangatan dalam tawa itu.

“Kamu terlalu percaya diri,” kata Pak Salim. “Baru pegang sedikit, sudah merasa bisa baca semua.”

Satria menyandarkan punggungnya. “Sedikit?” I
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (63)
goodnovel comment avatar
PiMary
Yang sabar ya mas Satria.....
goodnovel comment avatar
Usnani
sudah jd mantan tp masih berharap n pengen ngatur...
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
kasihan Nayla kalo ga boleh ketemu papanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 256. Hidup Harus Berjalan

    Keberadaan Tante Vonny dan Om Franky memang sesuai dengan yang pernah dikatakan Satria. Pasangan itu cukup lama menetap di Jakarta. Tak terasa, sudah lebih dari sebulan sejak mereka datang berkunjung.Sepasang suami istri yang menempati kamar tamu di lantai dua itu bahkan sudah dianggap Sheza sebagai bagian dari rumah mereka. Entah kenapa, ia kembali merasakan kerinduan pada sosok yang bisa ia anggap sebagai ibu. Tante Vonny yang ceria, dengan celetukan-celetukan lucunya, membuat Sheza merasa begitu nyaman untuk membuka hati dan bercerita tentang banyak hal.Pagi hari, Tante Vonny akan bergabung bersama Tuti membuat sarapan, atau bahkan mengajarkan satu dua resep yang dulu biasa dimasaknya untuk Satria di Manado. Saat Dio, dan kadang Nayla, selesai sarapan, ia akan mengajak mereka ke belakang untuk melakukan aktivitas yang banyak bergerak. Katanya, supaya anak-anak tidak terlalu lama berada di dalam ruangan berpendingin udara.Berbeda dengan Tante Vonny, di hari kerja Om Franky justru

  • KAMAR KEDUA   Bab 255. Kebijaksanaan dari Masa Lalu

    Satria sudah banyak belajar tentang tubuh Sheza. Waktu yang mereka habiskan berbagi ranjang membuat pria yang terbiasa memperhatikan itu semakin peka memahami setiap reaksi wanitanya.Ia memahami apa yang diinginkan Sheza ketika wanita itu membuka pahanya lebih lebar. Ia juga paham saat tangan Sheza memeluknya semakin erat dan kuku-kukunya mencakar pelan punggungnya. Bagi Satria, itu selalu menjadi pertanda bahwa Sheza mulai mendekati titik klimaks.Suara Sheza akan terdengar semakin jelas. Meski pada dasarnya wanita itu memang tipe yang vokal, menjelang puncaknya suara itu selalu berubah menjadi lebih gaduh. Beberapa saat kemudian, paha Sheza akan bergetar tipis. Tubuhnya menegang sejenak, sebelum akhirnya perlahan kembali lunglai di dalam pelukannya.Saat itulah Sheza menjadi tak berdaya. Wajahnya biasanya memerah, dadanya naik turun karena napas yang mulai memburu. Kedua tangannya terentang di atas kepala, sementara tubuhnya seolah pasrah dalam pelukan Satria. Di saat-saat seperti

  • KAMAR KEDUA   Bab 254. Tentang Masa Depan

    Satria dulu memang tidak pernah benar-benar memikirkan seperti apa masa depan rumah tangganya bersama Nadine.Ketika masuk ke dalam keluarga Kertasoedibyo, ia sadar sepenuhnya dengan apa yang sedang dilakukannya. Jujur saja, pada masa itu yang benar-benar memenuhi pikirannya hanyalah bagaimana Rylee Logistics bisa terus berjalan.Perusahaan itu ia bangun dari puing-puing usaha milik papanya yang pernah hancur dan nyaris tidak menyisakan apa pun. Ia membawanya dari Manado, lalu membangunnya kembali sedikit demi sedikit dengan tangannya sendiri di ibukota.Namun ketika akhirnya menjalani pernikahan dengan Nadine, Satria tidak pernah setengah-setengah.Sebagai suami ia mengambil tanggung jawab itu sepenuhnya.Ia menjadikan Nadine pasangan hidupnya. Perempuan yang membutuhkan seorang suami dan rekan.Saat itu Satria benar-benar percaya bahwa ia bisa membawa rumah tangga mereka menuju bentuk keluarga yang selama ini ia inginkan.Sebuah keluarga yang hangat, juga sebuah rumah sebagai tempa

  • KAMAR KEDUA   Bab 253. Kejujuran Masa Lalu

    "Karena bekalnya menurutku … terlalu serius."Sheza langsung mengernyit. "Serius gimana?""Kamu bikin bekal buat orang yang bahkan belum pernah makan siang bareng kamu.""Itu kan cuma bekal."Satria menggeleng pelan. "Dengan catatan sederhana itu … buatku itu bukan bekal biasa.”Sheza langsung tertawa. “Itu cuma surat pendek.”"Dan buatku nggak sesederhana itu.” Satria menangkap tangan Sheza yang tadi berada di pahanya. “Aku masih ingat isi surat itu.”"Jangan diulang."Satria malah terkekeh dengan semburat merah tipis di pipinya. Cukup membuat ekspresinya lebih lunak dari biasanya."Aku senang waktu baca surat itu.”Kalimat berikutnya membuat Sheza perlahan diam kembali. Satria menunduk menatap cangkir tehnya. "Sangat senang."Sheza menunggu."Aku bahkan nggak langsung makan bekalnya.""Kenapa?""Aku ditelepon seseorang yang waktu itu kurasa … lebih penting.” Satu sudut bibir Satria terangkat.Sheza memandang Satria yang malam itu sedikit lebih banyak bicara. Pria itu sedang tercenun

  • KAMAR KEDUA   Bab 252. Ketika Semua Harus Terjadi 

    Tante Vonny yang tadi sempat diam, kini berkata pelan, “Sat … kamu pernah cinta Nadine, kan?”Pertanyaan itu membuat Sheza membeku di dekat pintu. Bahkan suara jangkrik dari taman seakan ikut menghilang.Satria terdengar kembali menghela napas. Lalu ia meneguk wine-nya lebih dulu dan memandang ke arah kolam yang memantulkan cahaya lampu taman."Aku menghormatinya." Satria kembali diam. "Aku peduli ke Nadine. Di mataku … Nadine nggak lebih kayak anak kecil yang selalu mendapatkan apa yang dia mau.”"Dulu … meski awalnya aku merespon ide Pak Salim soal perjodohan dengan banyak pertimbangan. Tapi aku berniat jadi suami yang baik. Keberadaan Pak Salim yang mampu menjadi pendengarku, sekaligus mentor, bikin aku kepengin punya orang tua seperti beliau.”"Tapi itu bukan jawaban pertanyaan Tante." Tante Vonny menatapnya lurus.Lama sekali Satria tidak berbicara.Sampai akhirnya ia mengembuskan napas pelan. “Cinta itu apa? Saat itu aku bahkan nggak memikirkan soal itu. Bagiku waktu itu … cinta

  • KAMAR KEDUA   Bab 251. Bukan Kisah Cinta Biasa

    Obrolan panjang dan rumit di meja makan sampai pada Nadine mengomentari sesuatu tentang strategi bisnis ayahnya. Nada bicaranya sedikit terlalu tajam. Dan ibunya langsung menegur. "Nadine."Ruangan menjadi hening sesaat."Kamu nggak harus mendebat semua hal,” kata Bu Mieke lembut, tapi tajam.Nadine langsung membuang pandangan. Ekspresinya berubah. Lebih terlihat seperti seseorang yang bosan mendengar hal yang sama ketimbang amarah.Saat itulah Satria angkat bicara. "Menurut saya nggak ada yang salah,” ucapnya tenang.Semua orang di meja makan menoleh. Satria lalu meletakkan gelasnya. "Nadine cuma menyampaikan pendapat. Saya rasa … anak muda seperti kami kadang-kadang punya cara penyampaian yang sedikit lebih berani.”Bu Mieke terlihat sedikit terkejut. "Nggak semua orang nyaman dengan cara penyampaiannya."Satria mengangguk. "Mungkin." Lalu ia menoleh pada Nadine. "Tapi isinya masuk akal.”Kali ini Nadine tidak langsung membalas.Tidak mendebat Satria atau menyelanya. Ia hanya meman

  • KAMAR KEDUA   Bab 88. Belum Baik-Baik Saja

    Sheza sebenarnya ingin langsung masuk ke ruangannya. Ia tidak ingin mengobrol. Tidak ingin menjelaskan apa pun. Hanya ingin duduk di kursi kerjanya, menatap layar, dan menyelesaikan apa yang tertunda sejak kemarin. Berharap kalau rutinitas bisa menahan kepalanya agar tidak meledak. Di mejanya, ia

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
  • KAMAR KEDUA   Bab 77. Pria Dingin Itu

    Ruang rawat itu terlalu terang untuk sebuah pagi yang seharusnya tenang. Tirai tipis hanya menahan cahaya setengah hati. Bau antiseptik menggantung, bersih dan dingin. Nayla tertidur setelah obat penurun panas bekerja. Napasnya teratur, pipi masih sedikit merah, tapi tidak lagi sepanik semalam. D

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 71. Yang Belum Sempat Dibicarakan

    Pintu depan terbuka bersamaan dengan suara yang terlalu familiar untuk disangkal. “Ibun! Ibuuun! Kok nggak kangen aku?” Suara Dio datang lebih dulu, mendahului langkah kecilnya yang berlari masuk ke rumah. Sheza yang baru keluar dari dapur langsung menoleh, dan sebelum sempat mengatakan apa pun,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 70. Kita yang Sebenarnya

    Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status