登入(Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Sesaat sebelumnya suara dua motor masih meraung liar di jalan raya pelabuhan.Brraaaammm!Satria sudah dua kali berhasil memotong kendaraan besar untuk mempersulit si kidal. Tapi pria itu masih terus menempelinya.Masih sejajar. Masih mencoba menjatuhkannya.Brak!Sekali lagi stang motor si kidal menghantam sisi kanan motor Satria.Motor besar itu berguncang keras. Nyaris menghantam kendaraan di sisi kirinya. Namun Satria tetap bertahan.Ia langsung mengambil sisi kanan sebuah truk kontainer besar di depannya. Menempel sangat dekat dengan truk itu. Terlalu dekat bahkan untuk ukuran motor besar.Si kidal menyusul di sampingnya.Lalu melakukan hal yang pernah ia lakukan pada Prabu. Sengaja terus mendesak dari kanan. Berusaha kembali membuat Satria menghantam badan truk. Suara besi bergesekan nyaris terdengar. Namun tepat beberapa meter sebelum ruang di depan menutup … Satria memutar gas penuh.Brraaaammm!Motornya melon
Beberapa hari sebelumnya saat Satria dan Arga sudah terlalu lelah membahas Hendra Kusuma Wijaya, ada obrolan santai yang keluar dari mulut mereka. Obrolan itu seperti janji yang tidak dramatis.Hanya obrolan pria yang membicarakan sesuatu yang terdengar seperti candaan buruk.Tentang gudang nomor tujuh belas.Tentang kemungkinan paling gila yang bisa dilakukan Satria.“Kalau gue nekat masuk ke gudang itu dan ngerampok semua isinya…” Satria memutar gelas di tangannya. “Lo bakal ngapain?”Arga langsung mendengkus. “Gue bakal cegah lo.”Satria tertawa kecil. “Segitunya?”“Karena itu ide paling goblok yang pernah gue dengar dari lo.” Arga tertawa.Julian yang duduk di sofa lain ikut tertawa pendek sambil memainkan korek api.Namun Satria tetap diam. Tatapannya serius. “Hm…” ia mengangguk pelan. “Tapi gimana kalau lo nggak bisa cegah gue?”Ruangan itu sempat hening beberapa detik. Arga menatap Satria lama sebelum akhirnya mengembuskan napas kasar.“Kalau gue nggak bisa cegah lo…” katanya p
(Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Satria sempat oleng ketika si kidal menghantam setangnya.Brak!Motor besarnya bergeser liar beberapa senti ke samping.Namun refleks tubuhnya bekerja lebih cepat dari rasa sakit di bahunya. Dalam sepersekian detik Satria kembali menguasai motor itu. Tangannya mencengkeram setang lebih erat sementara ban motornya kembali lurus membelah jalan.Sisi kirinya kosong.Tanpa ragu ia membelokkan motor sedikit ke kiri. Si kidal tetap menempel dari sisi kanan.Terus di sana.Terus mencoba mencari celah.Sorot mata Satria menyipit di balik visor helmnya. Ia mencoba membaca gerakan lawannya.Cara pria itu mengambil tikungan. Cara pria itu menahan stang. Cara ia menjaga keseimbangan. Dan semakin lama Satria semakin sadar satu hal.Si kidal ternyata tidak terlalu hebat dengan motor.Mungkin hari di mana Prabu kecelakaan memang berbeda. Prabu tidak sadar sedang diburu. Tidak sadar sedang diarahkan menuju kematian.Karena itu Prabu le
(Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Satria meraih sebotol air mineral dari dalam ranselnya.Tanpa pikir panjang, air itu langsung disiramkannya ke kepala sendiri. Membasahi rambut, wajah, sampai lehernya yang panas terkena hawa api.Sisanya ia tuang ke handuk kecil yang juga diambil dari dalam tas.Handuk basah itu langsung menutupi hidung dan mulutnya.Persiapan kecil yang bahkan tadi terasa berlebihan saat ia memasukkannya ke dalam ransel. Tapi sekarang … justru menyelamatkannya.Sejak berangkat menuju gudang nomor tujuh belas, ada bayangan aneh yang terus mengganggu kepalanya. Bayangan tentang dirinya yang mungkin tidak akan dibiarkan keluar begitu saja dari tempat itu.Dan karena pikiran gila itulah, tanpa sadar ia membawa benda-benda yang bahkan tidak ia rencanakan sebelumnya.Kakinya mulai terseret saat berjalan menuju pintu gudang.Bahu belakangnya berdenyut semakin liar. Asap membuat pandangannya kabur. Tapi ia tetap memaksa bergerak. Tangannya me
(Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Tatapan Satria dan si kidal beradu di tengah kobaran api yang mulai membesar.Tatapan yang sama-sama gelisah. Sama-sama menghitung kemungkinan hidup.Mata Satria bergerak cepat. Ke ranselnya yang tergeletak di dekat kaki rak besi. Lalu ke pintu gudang yang masih terkunci rantai. Dan terakhir … ke jerigen bensin yang terguling miring, membiarkan cairannya terus mengalir pelan di lantai.Sementara itu si kidal menoleh ke arah rak roboh yang menimpa tubuh rekannya. Pria besar itu tak bergerak sama sekali di bawah tumpukan besi.Lalu matanya ikut berpindah ke pintu. Ke api. Ke bensin. Dan akhirnya … kembali ke Satria.Keduanya menyadari hal yang sama. Mereka tidak lagi sedang bertarung untuk menang. Mereka sedang berebut keluar hidup-hidup dari gudang yang sebentar lagi berubah jadi neraka.“‘Kita perlu berkas-berkas di gudang nomor tujuh belas buat jadi barang bukti.’”Suara Arga kembali terngiang di kepala Satria.Namun t
Beberapa detik yang lama, gudang itu kembali sunyi. Hanya suara kipas tua di langit-langit yang berputar lambat. Berderit. Berulang. Membuat suasana terasa semakin sesak.Satria berdiri di tengah lorong gudang dengan tubuh sedikit miring. Posisi yang tampak santai, padahal seluruh ototnya sudah menegang penuh.Dua pria di depannya mulai menyebar pelan.Mengurung.Si kidal tersenyum kecil sambil memainkan sesuatu di tangannya. Cable ties hitam panjang.“Masih mau nyari handphone-nya Prabu?” tanyanya santai. “Handphone-nya udah gue remukin jadi abu. Sisanya gue buang ke sungai. Lo nggak akan bisa nemuin apa-apa buat dijadiin barang bukti.”“Kalau handphone lo? Isinya apa aja? Bisa jadi barang bukti?” Satria bertanya dengan nada penasaran yang wajar. Seperti sedang bicara dengan rekannya.“Jangan mimpi bisa pegang handphone gue.” Si kidal tertawa terbahak-bahak. “Isi handphone gue udah bukan kelas teri lagi,” lanjutnya.“Nggak perlu mimpi untuk itu,” sahut Satria. Langkahnya mundur. Kin
Lampu ruang kerja masih menyala ketika ponsel Satria bergetar untuk kesekian kalinya malam itu. Berkas-berkas dari kantor Prabu terbuka di meja. Beberapa map sudah ia pilah. Beberapa angka ia lingkari dengan pena merah. Ada pola yang tidak rapi, dan ketidakteraturan itu membuatnya belum bisa berhent
Hari terasa berlalu tanpa jeda. Satria kembali tenggelam ke ritme yang dikenalnya sejak lama. Deru pelabuhan, suara derek, bau solar, dan dokumen yang berpindah tangan lebih cepat daripada percakapan. Pagi ke malam, malam ke pagi. Seolah hidupnya kembali ke mode lama. Tapi kali ini, bukan hanya u
Ruang rawat itu terlalu terang untuk sebuah pagi yang seharusnya tenang. Tirai tipis hanya menahan cahaya setengah hati. Bau antiseptik menggantung, bersih dan dingin. Nayla tertidur setelah obat penurun panas bekerja. Napasnya teratur, pipi masih sedikit merah, tapi tidak lagi sepanik semalam. D
Satria tiba lebih dulu. Jam di dashboard mobilnya menunjukkan pukul 06.58 ketika ia memarkirkan kendaraan di depan kafe yang masih setengah mengantuk. Kafe itu bukan tempat yang mencolok. Tidak populer di media sosial, tidak ramai, tidak murah dan justru itu para eksekutif sering memilih tempat i







