“Mama sendirian di sini. Mama akan sangat merindukanmu, Sayang,” rengek Sabrina dengan nada manja yang dibuat-buat.Ia berdiri di depan cermin besar kamar apartemennya, membersihkan wajah dengan kapas yang telah dibasahi cairan pembersih. Di layar ponsel yang bersandar di meja rias, wajah mungil Aliz terlihat jelas dari Singapura.“Aku juga kangen, Mama,” jawab Aliz sambil melambai kecil.Sabrina tersenyum, lalu menyipitkan mata. “Oh ya. Papa di mana?”Aliz menoleh ke belakang sebentar, lalu menjawab polos, “Pacalan sama Tante Adis!”Tangan Sabrina langsung berhenti di pipinya. “Apa?” serunya.Dari belakang layar, suara tawa Adrian langsung pecah. “Hahaha! Aduh, cucu Opa ini jujur sekali!”Sabrina lantas mengerang frustrasi.“Ayah! Tolong bilang pada Bang Ganda agar mengajari putrinya dengan benar!” protesnya. “Aku sudah susah payah mendidik Aliz dan… ah. Lihatlah dia sekarang!”Adrian masih terkekeh. “Tenanglah, Sayang. Anak kecil hanya meniru apa yang ia dengar.”“Justru itu masala
اقرأ المزيد