Suasana intim yang baru saja terbangun di ruang tamu tadi hancur seketika oleh suara nyaring ponsel Kael. Di tengah apartemen yang hening, dering itu terdengar begitu keras, seolah menarik paksa keduanya kembali ke realitas yang rumit. Sabrina, yang sedetik lalu nyaris luluh dalam pesona Kael, langsung tersentak dan memalingkan wajahnya yang memerah. Ia segera melepaskan diri dari dekapan Kael dengan gerakan canggung."Aku... aku lupa ada pakaian kotor Aliz yang masih tertinggal di kamar mandi," gumam Sabrina tanpa berani menatap mata Kael. Tanpa menunggu jawaban, ia lekas beranjak, melarikan diri dari atmosfer yang terlalu menyesakkan bagi jantungnya. Kael mendesah frustrasi, merutuki siapa pun yang berani mengganggunya di waktu yang sangat tidak tepat ini. Ia merogoh saku, melihat nama Victor terpampang di layar gawainya. Dengan wajah mengeras, ia menggeser ikon hijau."Ada apa?" bentak Kael kesal, suaranya rendah namun penuh penekanan."Maaf, Tua
اقرأ المزيد