Suasana tak kalah heboh. Zayyan, Aisha, dan Tsaqif sudah diberitahu tentang calon adik baru mereka."Bu, kata Papa, Ibu nggak boleh angkat Tsaqif lagi ya? Tsaqif kan berat," ujar Tsaqif dengan bahasa cadelnya, sambil berusaha naik ke kursinya sendiri tanpa bantuan.Aisha mengangguk setuju. "Iya, Bu. Biar Aisha yang beresin mainan Tsaqif. Ibu istirahat aja biar adek bayinya cantik kayak Aisha." Alya mencubit hidung Aisha gemas.“Emang adeknya Perempuan?” goda Alya.“Sepertinya … iya, Bu. Biar dua anak Perempuan, dua anak lelaki. Pas.” Celoteh Aisha.Zayyan, yang paling besar, menatap Ibunya dengan dewasa. "Bu, kalau Ibu butuh apa-apa pas Papa di kantor, panggil Zayyan ya. Zayyan sudah simpan nomor darurat dokter di HP Zayyan."Alya menatap Araska yang sedang sibuk mengupas kulit apel dengan sangat teliti. "Lihat, Mas. Kamu menulari anak-anak dengan kepanikanmu."Araska mengangkat bahu tanpa rasa bersalah. "Ini bukan panik, Al. Ini namanya manajemen risiko."Memasuki minggu kedelapan, f
Read more