Hari demi hari berlalu, hingga tak terasa waktu pernikahan semakin dekat.Sesuai adat, malam sebelum pernikahan dilakukan prosesi midodareni. Rendy datang ke rumah Pakde Hendra, tetapi ia tidak diperbolehkan melihat Bianca. Ia hanya boleh duduk di teras, bercengkerama dengan keluarga pria."Rendy, sudah siap mental buat besok pagi?" tanya Pakde Hendra sambil menyodorkan sepiring jajan pasar."Siap, Pakde. Hafalan teks akadnya sudah di luar kepala," jawab Rendy sambil mencoba tersenyum, meski kakinya tidak bisa berhenti bergoyang karena gugup."Bukan teksnya yang penting, Ren. Tapi maknanya. Kamu itu mengambil tanggung jawab dari saya. Dulu, Bianca saya jaga dengan doa. Besok, tugas itu pindah ke pundakmu."Budhe Hendra keluar membawa segelas teh hangat. "Ini buat calon pengantin. Diminum dulu, Ren. Oh ya, Bianca titip pesan."Rendy langsung menegakkan punggungnya. "Pesan apa, Budhe?""Dia bilang, jangan lupa makan malam. Dia nggak mau
Last Updated : 2026-05-01 Read more