Kabut tipis masih menggantung ketika mobil hitam itu melaju pelan menyusuri jalan sempit menuju dermaga lama. Aspal yang retak, lampu jalan yang jarang menyala, dan bau asin laut membentuk suasana muram yang seolah menelan siapa pun yang datang dengan niat tersembunyi.Rania duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan.Tangannya terlipat di pangkuan, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dibawa ke tempat yang dulu membuatnya gemetar. Di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja cepat, menghitung napas, jarak, dan kemungkinan terburuk.Jeff mengemudi tanpa banyak bicara.Sesekali ia melirik Rania dari sudut matanya, menangkap perubahan kecil yang dulu tidak pernah luput darinya. Kini, perempuan itu tidak lagi gelisah. Tidak ada tangan yang mencengkeram kursi, tidak ada bahu yang tegang berlebihan.Itu membuat Jeff justru tidak nyaman.“Kamu tidak bertanya ke mana kita pergi,” ujar Jeff akhirnya, memecah keheningan.Rania mengangkat bahu. “Bukankah sudah jelas?”
Dernière mise à jour : 2026-02-02 Read More