Mall itu ramai seperti biasa, penuh lampu, suara langkah kaki, dan tawa pengunjung yang bercampur dengan denting musik lembut dari setiap sudut toko. Rania melangkah pelan di antara keramaian, mengenakan mantel tipis dan rambut yang dibiarkan terurai. Hari itu ia sengaja keluar sendiri, tanpa Revano, tanpa pengawal, tanpa jadwal rumah sakit.Ia hanya ingin… bernapas.Setelah semua yang terjadi seperti Jeff, Arsen, Alya, Siska, dan luka-luka yang tak terlihat kepalanya terasa sesak. Mall menjadi tempat paling netral untuk menipu diri, seolah hidup masih normal.Rania berhenti di depan etalase toko sepatu. Pantulan wajahnya terlihat di kaca. Tidak lagi rapuh seperti dulu, tapi ada garis lelah yang sulit disembunyikan.“Aku cuma mau jalan sebentar,” gumamnya pada bayangannya sendiri.Ia melangkah lagi, menuruni eskalator. Namun karena pikirannya melayang, tumit sepatunya tersangkut ujung anak tangga.“Ah—!”Tubuh Rania oleng ke depan.Tasnya terlepas.Dan sebelum lututnya benar-benar men
Read more