“Saking gelisahnya, dia mungkin bakal datang ke sini.”Freya sejenak menatap langit-langit kamar tipe suite room tempatnya berduaan dengan Aryan. Matanya lalu terpejam, seiring helaan napas panjang yang terdengar berat di tengah keheningan.Duduk menyamping dengan menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa juga, Aryan anteng memperhatikan Freya. Ia nyaris tak berkedip, memandangi Freya yang tampak mengatur napas sambil tetap memejamkan mata.Freya tentu sedang menenangkan dirinya sendiri. Namun, tanpa dia sadari, pria yang duduk di sisinya juga jadi merasa lebih tenang karenanya.“Teleponnya boleh aku angkat, nggak? Biar dia lebih cepet datang ke sini.”Mendengar apa yang dikatakan Aryan, Freya tersenyum tipis. Membuka matanya perlahan, ia lalu berucap, “Buru-buru banget, sih? Udah bosen, ya, jadi selingkuhan?”Aryan sontak mendengus tawa. Kekehannya pelan dan singkat, tetapi cukup menunjukkan betapa pria itu tergelitik dengan tutur kata Freya.“Benefit yang disepakati serbatanggung, ma
Read more