Wajah antuasias Freya sirna begitu saja. Matanya kini memicing sinis, memandang Aryan dengan tatapan menghakimi.“Menurutmu, itu logis?” tanya Freya ketus.Aryan tergelak kecil, lalu tertawa melihat reaksi jengah Freya. “Baru kejadian sekali, sih. Jadi itu mungkin cuma kebetulan,” ujarnya.Ucapan Aryan membuat ekspresi Freya berubah lagi. Keningnya mengernyit, berusaha mengingat sesuatu yang tampaknya merupakan bagian dari momen terlupakan tempo hari.“Oh, ternyata kamu belum ingat semuanya,” gumam Aryan dengan nada iseng.Aryan pun meninggalkan meja makan, membiarkan Freya bingung sendirian. Meski begitu, senyumannya tidak lantas memudar, terlebih saat menyadari Freya kemudian berjalan cepat menyusulnya.“Emangnya kita pernah tidur sambil pelukan?” tanya Freya.Tanpa menghentikan langkahnya, Aryan santai menjawab, “Iya, pernah.”“Kapan?”“Waktu kamu pertama kali tidur di sini.”Freya berhenti mengekor, sementara Aryan tetap jalan beberapa langkah hingga sampai di depan kamarnya.“Har
Read more