Di luar ruangan, Keenan yang sedang memperhatikan semuanya melalui ponselnya di koridor laboratorium, hampir saja melempar ponselnya ke dinding. Giginya bergemeretak. "Bajingan kau, Raisya!" desisnya. [Aruna, tenang. Ingat apa yang kita siapkan semalam. Flashdisk itu... Pakai flashdisk di saku kirimu, bukan yang di kotak,] bisik Keenan melalui interkom, suaranya begitu tenang namun penuh otoritas. Aruna yang tadinya ketakutan, tiba-tiba mendengar kata-kata Keenan melalui Interkom. Ia menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Ia melihat ke arah kamera CCTV di sudut ruangan, seolah tahu Keenan sedang menontonnya. Aruna tersenyum kecil. Sebuah senyum yang membuat Julian dan Raisya merasa merinding tanpa alasan. "Baiklah, Pak Alexander. Kalau Raisya mengaku itu datanya... Saya ingin dia menjelaskan satu hal," Aruna berjalan ke depan, berdiri tepat di samping Raisya yang mulai terlihat gelisah. "Raisya, di slide
Read more