Suasana hangat di balkon Mansion Arkana seketika mendingin setelah mendengar kata-kata Nandi yang menggantung. Keenan berdiri tegak dengan kancing kemeja teratasnya yang terbuka memperlihatkan dada bidang yang masih naik-turun karena gairah yang terinterupsi. Ia menatap Nando dengan mata biru yang berkilat tajam, seolah siap menerkam siapa pun yang berani mengusik ketenangannya setelah seminggu penuh penderitaan di rumah sakit. "Katakan dengan jelas, Nando. Jangan membuang waktuku dengan wajah ragu seperti itu," geram Keenan. Suaranya rendah, bergetar oleh otoritas yang mutlak. Aruna, yang berdiri di sampingnya, masih sibuk mengancingkan kemeja casualnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia bisa merasakan aura dominan Keenan yang kembali memuncak. Keenan, tanpa memalingkan wajah dari Nando, meraih pinggang Aruna dan menariknya merapat ke sisi tubuhnya. Nando menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. "Ini tentang Tante Sofia, Keenan. Pak Alexander." Alexan
Read more