Mereka sampai di depan sebuah gedung apartemen menengah, Keenan tampak ragu. Unitnya berada di lantai 12. Saat pintu terbuka, aroma kayu, furnitur lama dan udara yang agak lembab menyambut mereka. Ruang tamunya kecil, hanya ada sofa sederhana, televisi, dan dapur minimalis yang menyatu. Tapi masih ada dua kamar dengan kamar mandi di masing-masing kamar. "Maaf, Aruna. Tempat ini jauh dari kemewahan yang biasa kuberikan padamu," kata Keenan pelan saat Nando meletakkan koper terakhir di sudut ruangan. Aruna melihat sekeliling. Ia melihat jendela besar yang menampilkan kelap-kelip lampu kota yang sederhana. Ia berbalik dan merangkul leher Keenan. "Ini sempurna, Keenan. Tidak ada pelayan yang menguping, tidak ada pengawal di depan pintu, dan tidak ada Papa atau Mama yang bisa masuk sembarangan. Di sini, kita hanya kita berdua.." Keenan tertegun, lalu ia tersenyum tulus, senyum yang jarang sekali terlihat. Ia menarik pinggang Aruna, menekan tubuh wanita itu ke tubuhnya yang masih te
Read more