Aruna datang lebih pagi sesuai permintaan Julian, ia sudah berdiri di depan lift eksekutif, merapikan blazer krem yang menutupi kemeja sutranya. Di telinga kanannya, masih terpasang sebuah earpiece transparan yang terhubung dengan Keenan, sementara di kedua kancing blazernya tersembunyi kamera mikro yang terhubung langsung ke ponsel Keenan. [Aruna, kamu dengar aku?] suara Keenan terdengar rendah di telinganya. [Dengar, Keenan. Aku sudah di depan ruangan Julian,] bisik Aruna sambil melangkah keluar saat pintu lift berdenting. [Ingat, kalau dia macam-macam, teriak Saja. Aku sudah di basement. Nando dan Zaskia juga sudah siap di posisinya. Jangan minum apa pun yang dia tawarkan sendiri, mengerti?] [Iya, Posesif. Aku masuk sekarang.] Aruna menarik napas panjang. Di meja sekretaris, Zaskia memberikan tatapan penuh peringatan. "Dia sudah menunggu di dalam, Aruna. Hati-hati, suasana hatinya terlihat... Terlalu baik pagi ini. Itu mencurigakan." Aruna mengangguk paham. Ia mengetuk
Read more