Malam itu, saat Aruna sedang mencoba menyusui Kenzo untuk pertama kalinya di ruang perawatan, Keenan berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa haru melihat istrinya menjadi ibu, namun ada juga rasa cemburu yang konyol muncul di hatinya.Aruna masih betah duduk bersandar di kursi laktasi yang nyaman, mendekap Kenzo yang mungil dalam pelukannya. Bayi itu tampak sangat tenang, mulut kecilnya bergerak-gerak teratur, menyusu dengan kuat pada dada Aruna.Wanita itu menunduk, menatap wajah putranya dengan rasa haru yang tak terbendung. "Anak pintar... Susunya enak, ya?" bisiknya lembut sambil mengelus pipi halus Kenzo.Namun, ketenangan itu mulai terusik karena suara helaan napas berat dari arah pintu. Keenan terus berdiri di sana, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Bukannya terlihat bangga, wajah tampan sang CEO itu justru tampak kesal. Matanya terus terpaku pada posisi kepala Kenzo yang menempel di dada Aruna."Sudah berapa lama
Read more