Keenan menendang pintu kamar utama dan menguncinya dari dalam. Ia menjatuhkan Aruna di atas ranjang yang luas. Tanpa menunggu, ia melepas kemeja hitamnya, memamerkan dada bidang yang dipenuhi otot-otot tegang. "Keenan, pelan-pelan..." Aruna merangkak mundur, namun Keenan menarik pergelangan kakinya, menyeretnya kembali ke tengah ranjang. "Tidak ada kata pelan untuk malam ini, Aruna. Aku sudah menahan diri sepanjang rapat, sepanjang di laboratorium aku menundanya, bahkan saat melihat wanita sialan tadi mencoba menggodaku. Aku hanya ingin kamu," Keenan merangkak di atas tubuh Aruna, mengungkungnya dengan kedua tangan yang kokoh. Ia mulai melumat bibir Aruna dengan liar. Ciuman itu bukan lagi sekadar kasih sayang, melainkan hasrat kepemilikan. Tangan Keenan bergerak teeampil membuka kancing blus Aruna satu per satu. Saat kulit mulus Aruna terekspos udara dingin AC, Keenan segera memberikan kehangatan dengan lidahnya, menjelajahi tulang s
Read More