[Kamu selalu tahu cara melunakkan hatiku, bahkan di saat aku ingin menjadi batu, Aruna. Baiklah, akan aku pikirkan sambil menunggumu datang ke sini..] [Baiklah aku kan segera datang, Keenan. Aku akan segera menyelesaikan draf ini dan menyusulmu. Aku merindukanmu,] bisik Aruna, memberikan sentuhan romantis untuk meredakan ketegangan suaminya. [Aku lebih merindukanmu. Cepatlah datang,] pinta Keenan dengan nada sensual yang membuat perut Aruna berdesir. Setelah panggilan terputus, Aruna masih menggenggam ponselnya erat. Suara berat suaminya yang penuh keletihan sekaligus hasrat yang tak tersembunyi masih terngiang di telinganya. Ada beban berat yang kini terpikul di pundak Keenan, beban sebagai seorang anak yang melihat ayahnya sekarat, sekaligus beban sebagai pemimpin yang harus menjaga agar kerajaan bisnisnya tidak runtuh. ‘Aku harus segera menyelesaikan sekarang, Keenan membutuhkan ku saat ini..’ Aruna me
Read more