Keesokan harinya, aroma antiseptik yang tajam digantikan oleh bau jok kulit mobil mewah Edward. Perjalanan pulang terasa sangat panjang. Edward duduk di sampingku, tangannya menggenggam jemariku erat di atas paha. Tatapannya lurus ke depan, sesekali ia melirikku dan melempar senyum tipis yang dulu pernah membuatku jatuh hati, namun kini hanya mengirimkan gelombang mual ke perutku.Kami tiba di kediaman Collins, sebuah mansion megah yang kini terasa seperti penjara emas bagiku. Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sini sebagai Nyonya Collins yang sah, setelah kekacauan di aula kemarin.Begitu pintu mobil dibukakan, Edward keluar terlebih dahulu, lalu berputar untuk membantuku turun. Sikapnya sangat protektif, tangannya melingkar di pinggangku dengan posesif saat kami berjalan menuju pintu utama."Selamat datang di rumah, Sayang," bisiknya lembut di dekat telingaku.Aku memaksakan sebuah senyum tipis, memainkan peranku. "Terima kasih, Edward."Di dalam, rumah sudah t
Read more